Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kolom KA7

Memahami Minimnya Putra Bali di Skuat Bali United

Meski minim putra Bali, saya yakin Semeton Dewata akan tetap memberikan dukungan besar kepada Bali United.

Tayang:

"KADEK Swartama umpan pendek kepada Wayan Sukadana, bola diteruskan ke tengah. Ada Wayan Kana di situ, umpan kepada Ida Bagus Mahayasa, kutak-katik dia, dua pemain dilewati...Mahayasa lepaskan mendatar ke arah gawang...dan goooooolllll!!!" Saudara-saudara pendengar, akhirnya Gelora Dewata unggul 1-0 atas lawannya. Luar biasa.

         Masih ingatkah Semeton Dewata dengan moment-moment tersebut? Ya, begitulah sering kita dengar siaran langsung laga Gelora Dewata lewat saluran Radio Republik Indonesia, yang "menghipnotis" penggemarnya hingga ke pelosok-pelosok Bali.

          Moment ini terjadi pada era kejayaan Gelora Dewata di kompetisi Galatama di tahun 90-an. Gelora Dewata benar-benar menjadi kebanggaan publik Bali. Suporter di Denpasar dan sekitarnya selalu memenuhi Stadion Ngurah Rai, sedang penggemar di daerah dengan setia memasang telinga di depan radio untuk mendengarkan siaran RRI. 

          Memang tim Barak-Putih-Selem ini tak pernah mengangkat trofi juara --prestasi tertinggi runner up Piala Liga setelah kalah 0-1 dari Pelita Jaya. Namun tim milik pengusaha H Mislan ini sangat dicintai Semeton karena membawa nama Bali, yang kebetulan beberapa pemainnya adalah putra-putra Bali.

          Kadek Swartama menjadi dirijen pertahanan sekaligus kapten tim. Wayan Sukadana dikenal sebagai stopper tangguh. Kemudian "si Kancil" Mahayasa yang selalu menjadi momok pertahanan lawan. Berikutnya muncul nama Komang Adnyana, seorang gelandang brilian.

          Setelah era Gelora Dewata, klub-klub Bali yang sempat berkiprah di kompetisi kasta tertinggi Indonesia, Persegi FC dan Bali Devata, juga mengusung nama-nama pemain lokal. Nama-nama Made, Wayan, Nengah, Ketut, atau Anak Agung menghiasi skuat tim.

          Bukan bermaksud bersikap primodial, tapi memang tak bisa dipungkiri, kehadiran pemain-pemain lokal selalu menjadi nilai lebih bagi sebuah tim sepakbola. Ikon lokal akan menjadi magnet bagi para suporter.

          Kini setelah lama vakum dari hiruk pikuk sepakbola nasional, publik Bali mendapat "berkah" dengan kehadiran klub Indonesia Super League (ISL) Bali United Pusam.

Klub yang awalnya bernama Putra Samarinda ini dibeli pengusaha Pieter Tanuri kemudian dibawa ke Bali dengan nama Bali United Pusam. Mereka akan bermarkas di Stadion Dipta Gianyar.

          Sejak awal, manajemen dan pelatih Bali United sudah berkomitmen untuk memberi ruang kepada pemain lokal memperkuat skuat tim Serdadu Tridatu. Manajemen dan pelatih menyadari sepenuhnya bahwa kehadiran pemain-pemain lokal Bali sangat penting.

          Karena itu, secara khusus manajemen dan pelatih membuka kesempatan seleksi bagi pemain lokal Bali. Seleksi dilakukan awal Januari selama dua hari yang diikuti sekitar 64 pemain.

          Setelah melalui seleksi ketat, yang dipimpin langsung Coach Indra Sjafri, akhirnya terpilih sembilan pemain terbaik lokal Bali. Mereka kemudian mengikuti seleksi tahap berikutnya. Sayang empat pemain harus tersisih karena gagal tes kesehatan atau kalah kualitas.

          Tersisa lima pemain lagi. Mereka dinyatakan lolos seleksi. Tiga nama, Nyoman Sukarja, Nengah Sulendra, dan Junius Bate, dikontrak setelah mencapai kesepakatan harga.       

Sayang, Ketut "Lebut" Mahendra, gagal menemui kesepakatan harga sehingga batal membela Bali United . Adapun I Komang Adi Parwa masih dipantau karena belum pulih dari cedera.

          Itu artinya, hingga saat ini baru ada tiga putra Bali dipastikan memperkuat Bali United di ISL 2015. Tentu ini di luar ekspektasi Semeton Bali, yang sangat berharap minimal 10 persen skuat Bali United diisi putra-putra Bali.

          Namun Semeton Bali tentu bisa memahami kondisi ini. Manajemen dan pelatih sudah membuka peluang seluas-seluasnya kepada pemain Bali, tetapi harus diakui ada tahapan yang harus mereka lalui. Untuk berlaga di level ISL, seorang pemain dituntut memiliki kondisi kesehatan yang baik dan kualitas mumpuni.

          Ketika dua syarat tersebut terpenuhi, pemain dan manajemen harus menemukan kesepakatan terkait nilai kontrak. Dan kita harus menghormati keputusan manajemen dan pemain ketika pada akhirnya tidak tercapai kesepakatan.

Semeton Bali juga bisa memahami minimnya pemain Bali yang bakal memperkuat Bali United tak lepas juga dengan mepetnya waktu untuk merekrut pemain-pemain Bali yang tampil di klub-klub ISL.

Saat Bali United hadir di Bali, pemain-pemain seperti Ngurah Nanak, Gangga Mudana, Putu Gede Juni Antara, Gede Sukadana, Made Wardana, atau Made Wirawan sudah mengikat kontrak dengan klub lamanya atau klub baru.

          Meski minim putra Bali, saya yakin Semeton Dewata akan tetap memberikan dukungan besar kepada Bali United. Kerinduan yang besar akan tontonan langsung atau siaran lewat radio, bisa mengubur ego primodial. Apalagi sekarang sepakbola dikelola profesional.

          Siapa pun pemainnya, yang penting bisa menghibur dan memberi kemenangan bagi pendukungnya. Apalagi kalau bisa mempersembahkan gelar juara. Itulah yang utama! 

*) Komang Agus Ruspawan (Wartawan Tribun Bali)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved