Art and Culture
Doddy Ngayah Kebudayaan Bali Melalui Jepretannya
Niatan luhurnya tampak dalam sejumlah karyanya yang dihadirkan pada pameran documenter photo art, "Tejakula & Blangsinga" di Griya Santrian, Sanur.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
Doddy menyampaikan, sesungguhnya ia juga memiliki banyak foto yang memotret sisi lain sang seniman, yang barangkali banyak orang tidak mengetahuinya.
Hanya saja, pada kesempatan kali ini, ia memilih untuk fokus mengedepankan figur Gus Aji sebagai penari.
“Saya sangat menghormati beliau. Cara penyampaian untuk menghadirkan kisah pribadi itu saya olah dalam bentuk mozaik tersebut. Kalau dilihat dengan cermat, banyak foto-foto menarik di sana,” imbuhnya.
Fotografer yang sempat turut dalam pameran "Spiritual Dancer" di Ginza, Tokyo ini juga mengabadikan maestro asal Tejakula, Buleleng, Ni Luh Menek dan kehidupan komunal penari wayang wong.
Pengalaman kreatifnya masuk ke dalam kehidupan kedua maestro asal Bali Selatan dan Bali Utara itu, terbilang cukup berbeda.
Doddy sempat kesulitan mengikuti Menek karena gerak tarinya terbilang sangat cepat, sehingga dia harus selalu sigap menekan dan membidik mata kamerannya.
Selain itu, dia perlu melakukan pendekatan tertentu karena Menek dan kelompok kesenian di sana tidaklah terlalu terbuka.
Doddy bahkan sempat mengalami dilema, terjadi kesalahpahaman dan kecurigaan terkait proteksi adat dan kesakralan wayang wong Tejakula. Namun semuanya dapat diatasi melalui komunikasi yang jelas dan hangat.
“Mereka berdua luar biasa. Saya pertama kali melihat Gus Aji menari di Kesiman tahun 2006. Saya langsung merinding, ingatkan saya pada seorang penari Bali pada tahun 80-an. Saya berpikir, inilah penari yang saya cari-cari,” kenangnya.
Sebagaimana disampaikan kurator pameran, Iwan Darmawan, memindahkan kehidupan ke dalam citra dua dimensi, sangat memerlukan kedekatan personal agar rohnya tidak terlalu banyak hilang.
Apalagi dokumenter, harus memiliki waktu hidup yang panjang dan mudah dikenali melewati masa depan yang tidak terbatas.
Doddy dinilai berusaha melakukan sesuatu yang tanpa disadarinya, bisa dikatakan telah berhasil mengurangi sebanyak mungkin kehilangan roh subjek karya foto-fotonya.
Walaupun untuk mengetahui apakah penikmat foto di masa depan akan juga memiliki pemahaman yang sama dengan apa yang disajikannya saat ini, itu masih harus menunggu waktu.
Sebagai orang lingkar luar, Doddy dipandang dapat menghindari jebakan eksotika subjek fotonya yang memiliki penawaran akan keindahan, keunikan, super ekspresif.
Doddy lebih memilih memutar untuk kemudian secara personal masuk lebih ke dalam kehidupan subjek fotonya.