Smart Women
Guru Cantik SMK di Badung Ini Punya Trik Jitu Ajarkan Matematika
Ada banyak hal yang saya pelajari dari kegiatan peningkatan mutu guru dan pendidikan
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Agung Yulianto
SEBAGAI pendatang baru, Ni Made Dwijayani SPd sudah berhasil membawa udara segar untuk SMK Pariwisata Dalung, tempatnya mengajar matematika selama hampir setahun ini.
Perempuan berusia 24 tahun ini melakukan berbagai inovasi, dari materi pembelajaran, hingga cara pendekatan ke masing-masing siswa.
Semangat dan gagasan-gagasan kreatifnya mengantar Dwi menjadi The Best 4th Participant dalam Course of Differentiated Instruction for Mathematics Teacher yang diselenggarakan oleh ASEAN Ministers of Education Organization (SEAMEO) pada 2014.
Dwi menjadi peserta yang paling muda dari lima peserta pada event yang dilakukan di Yogyakarta dengan 24 peserta terpilih dari Indonesia dan tujuh negara di Asia Tenggara itu.
"Ada banyak hal yang saya pelajari dari kegiatan peningkatan mutu guru dan pendidikan. Saya banyak terinspirasi," ujarnya kepada Tribun Bali di ruang guru SMK Pariwisata Dalung di Kuta Utara, Badung, Jumat (23/1/2015).
Dwi terpilih untuk mengikuti kegiatan Quality Improvement of Teacher and Education (QITEP) itu setelah mengikuti sejumlah tes, dan pengiriman dokumen serta melewati seleksi wawancara dalam bahasa Inggris.
Atas keberhasilannya itu, Dwi mendapatkan pelatihan intensif dan melakukan pear teaching di SMAN 1 Magelang selama 16 hari.
Setelah mengikuti pelatihan, Dwi mencoba mengaplikasikan apa yang diperolehnya, dan disinergikan dengan gagasan-gagasannya.
Apalagi matematika merupakan pelajaran yang dipandang cukup ditakuti banyak siswa, dan Dwi mencoba melakukan pendekatan yang menyenangkan.
Dwi tetap menggunakan konsep jembatan keledai agar murid-muridnya lebih mudah memahami dan mengingat rumus-rumus yang tampaknya begitu kompleks dan rumit. “Misalnya untuk yang sin cos, dan lainnya, saya pakai cara jembatan keledai. Maksudnya, diberi singkatan tertentu yang kata-katanya familiar,” terangnya.
Menurut perempuan yang sedang menempuh pascasarjana ini, setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang cepat menangkap melalui visual, audio, atau teknik-teknik tertentu. Dwi mengambil jalan tengah agar bisa diikuti oleh semuanya, dan satu di antaranya adalah jembatan keledai.
“Ada cara lain juga yang saya lakukan, dengan menggunakan media poster. Sebenarnya ini sudah pernah diterapkan dari lama. Hanya saja, selama ini tidak berjalan dengan optimal. Barangkali karena mempertimbangkan durasi waktu di kelas,” kata putri pasangan Ni Luh Ikayani AMd Kes dan Ni Nyoman Triyani AMd Keb itu.
Dwi sempat menunjukkan sejumlah poster hasil aktivitasnya mengajar di kelas. Pada poster yang dibuat menggunakan kertas buram ukuran besar itu, terdapat sejumlah hitung-hitungan matematika menggunakan rumus tertentu.
Setiap poster dikerjakan oleh lima sampai enam siswa. Melalui cara seperti itu, Dwi memberikan tantangan kepada anak didiknya mencari cara-cara inovatif untuk menjawab sebuah soal.
Dia melemparkan sebuah soal untuk setiap kelompok, masing-masing hanya dibedakan angkanya saja. Apabila satu kelompok telah mendapatkan cara penyelesaian tertentu, kelompok lainnya harus mencari cara lain.