Art and Culture
Kartun Tanpa Objek Manusia, Rasanya Ada yang Kosong
Sebagai kartunis, Jango tidak hendak berhenti menggali sisi kritis dan ruang kreatif dalam dirinya. Dia berani melompat memasuki dunia seni rupa.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sebagai kartunis, Jango tidak hendak berhenti menggali sisi kritis dan ruang kreatif dalam dirinya. Dia berani melompat memasuki dunia seni rupa.
Terbukti, Jango mampu menghadirkan lukisan yang ternyata sangat diperhitungkan keberadaannya. Satu di antara sejumlah karya terkininya adalah Beast and the Beauty (2014).
“Saya paling suka lukisan satu ini dan memang sengaja tidak saya jual,” ujar Jango sambil menunjuk karya berukuran 40x60 cm itu.
Sebagaimana judulnya, Jango melukiskan wajah dua figur yang satu sama lain seakan begitu kontras. Dia hanya bermain dengan warna hitam, putih, dan merah bata.
Bagian mata yang dibentuk sedemikian rupa, ada yang tertutup, memberikan kesan kemurungan mendalam, seolah menyimpan sekian misteri. Aura serupa juga dapat dirasakan pada lukisan Dalam Kesendirian (2014).
Sebelumnya, Jango sempat mengatakan pada dirinya, saat mencipta karya seni rupa, ia akan melepaskan diri dari peran sebagai kartunis. Awalnya ia tidak ingin ada satupun figur manusia di dalam lukisannya.
“Biarlah kartun saya saja yang menggunakan manusia. Tapi belakangan ternyata saya tidak bisa melakukannya. Seberapa besarnya niatan untuk menghindar, tetap saja terbawa. Malah saya merasa, sebuah figur perlu digambarkan karena penikmatnya adalah manusia,” katanya.
Karya-karya Jango lebih banyak mengarah ke ekspresionis, sebagai medium pengungkapan imajinasi dan daya kreasinya.
“Tanpa objek manusia, rasanya ada yang kosong, kurang hidup. Apabila diperhatikan, saya memang banyak menonjolkan anatomi wajah,” ujar Jango yang dulu aktif berkesenian dengan mengusung nama XYZ.
Keputusan Jango untuk masuk ke dalam seni rupa karena ia merasa masih ada yang belum selesai apabila hanya berhenti di kartun. Seni rupa memberinya bentuk kebebasan yang lain. Ia mengumpamakan seperti puisi yang belum selesai ditulis.
Kurator Yudha Bantono, menilai Jango dengan figur olahan yang melayangkan imaji dan pikirannya adalah upaya penjelajahan ke dalam satu fenomena.
Sang seniman dipandangnya hendak mengubah arus kartun yang sudah melekat padanya. Menjadikannya elemen garis yang sejatinya menjadi patron baru karyanya.
Apabila dibandingkan dengan karya tahun-tahun sebelumnya, apa yang dicapai Jango kali ini terbilang sebuah langkah panjang. Jango sempat memperlihatkan lukisannya dari masa-masa awal hingga yang terkini. Perbedaannya boleh dikata cukup jauh.
“Dulu saya hanya memakai bulat-bulat saja. Tapi ya, belumlah itu,” kata Jango. (*)
Biodata: