Youngstar

Remaja Asal Karangasem, Bali, Jawarai Tiga Kejurnas Junior Berturut-turut

I Ketut Adi Putra Adnyana Atlet berbakat Bali yang sudah memiliki segudang prestasi

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani

TRIBUN-BALI.COM - Seorang putra Pulau Dewata asal Karangasem, I Ketut Adi Putra Adnyana, kerap tampil menjadi terdepan dalam berbagai kompetisi wushu, baik tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Terakhir kali, remaja yang akrab dipanggil Adi ini, menjadi satu-satunya atlet Bali yang mewakili Indonesia dalam gelaran Asean School Games Wushu di Filipina.

Saat ditemui Tribun Bali di tempat latihannya, di Gedung Darma, Jalan Hasanudin, Denpasar, Rabu (4/2) lalu, Adi sedang siap-siap untuk berlatih. Beberapa kawannya sudah berkumpul untuk mulai pemanasan awal.

Mengenakan kaos biru, lengkap dengan peralatan lainnya, Adi berulang kali jalan berputar, mengelilingi arena latihan.

Sesekali ia melakukan gerakan menendang, mengangkat kakinya, lalu merentangkan kedua tangannya.

Setelah merasa cukup, dia mulai memperagakan kekuatan, melakukan kuda-kuda dan memperlihatkan kemampuannya melompat.

Gerakannya begitu gesit, melesat dengan cepat. Saat membuat lompatan, kedua kakinya mampu mendarat secara sempurna.

Ekspresi Adi begitu tenang, namun tatapan matanya tetap tajam, fokus ke depan.

Dia tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan Walikota Cup dan Udayana Wushu Competition akhir Februari mendatang.

Wushu dikenal tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik, melainkan juga memerlukan penjiwaan dan kejernihan pikiran.

“Tantangan di wushu adalah bagaimana menjaga semangat dan mood, karena tidak hanya memerlukan gerakan saja, tapi juga penjiwaan,” kata Adi siswa SMKN 4 Denpasar, yang kini duduk di tahun terakhir.

“Jadi selama ini, seolah-olah di depan saya itu ada musuh, padahal gak ada. Jadi gak mungkin kan pas kita main, ekspresinya melongo gitu. Harus bisa marah atau tenang,” tambahnya.

Konsepnya, wushu berasal dari kungfu, ilmu bela diri tradisional dari Tiongkok. Hanya saja wushu sifatnya lebih modern.

Pada dasarnya ada dua aliran wushu, yakni taolu, dan standa. Taolo lebih mengedepankan seni gerak, seperti taici.

Selama delapan tahun terakhir, Adi menekuti taolu karena memang di Bali belum ada yang mampu mengajari standa.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved