Griya Style
Kentalnya Arsitek Khas Bali di Balairung Puri Pemecutan
Serpihan peninggalan sejarah yang telah ada sejak tahun 1907
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN-BALI.COM - Balairung dikenal menjadi bagian yang cukup penting dalam sebuah puri. Begitu pula halnya dengan Puri Pemecutan di Denpasar.
Masih dapat dilihat serpih-serpih peninggalan sejarah yang telah ada sejak tahun 1907, misal pintu balairung Puri Pemecutan.
Pintu tersebut berwarna agak keemasan dengan corak yang tidak mudah ditemui pada pintu yang umum digunakan masyarakat Bali.
Ukirannya terlihat begitu detail dan tegas. Diyakini, pintu itu dibuat oleh para seniman undagi yang berasal dari Gerenceng, Denpasar. Seni pahat, ukir, dan patung, dipercaya pula bermula di Gerenceng.
Tribun Bali sempat berkunjung dan melihat hampir seluruh bagian-bagian bangunan di dalam puri tersebut, Sabtu (28/2/2015).
I Gusti Ngurah Gede Pemecutan yang juga pendiri Museum Sidik Jari, Puri Pemecutan menyebutkan bila bangunan tersebut dapat dikata sebagai Museum Arsitektur Tradisional Bali.
Meskipun sebagian besar bangunan balairung telah direnovasi, namun masih dapat dirasakan bagaimana kentalnya arsitektur khas Bali. Misalnya, dari ukiran, pilar, pintu, maupun jendelanya.
“Sesungguhnya, saat pertama kali dibangun, sama sekali tidak berisi ukiran, polos sekali,” tutur Gusti Ngurah.
Diceritakannya, bangunan dibuat sederhana tanpa ukiran dan berbagai ornamen atau dekorasi tertentu dikarenakan keadaaan yang tidak memungkinkan.
Para anggota Puri Pemecutan yang masih bertahan akibat kekalahan dalam perang, bersatu padu untuk membangun puri tersebut, sehingga dibuat seadanya.
Puluhan tahun lalu, balairung tersebut digunakan sebagai tempat yang sangat khusus, hanya untuk menerima tamu-tamu tertentu.
Selain itu, berbagai rapat dengan figur-figur penting dan terhormat juga berlangsung di sana.
Apabila diperhatikan, bentuk balairung sangat terbuka, berbeda dengan konsep era kini.
Umumnya, tempat rapat pastilah tertutup sehingga tidak satupun orang bisa menyaksikan. Namun, cara para raja saat itu memanglah berbeda.
Pertemuan dan rapat tidak berlangsung dengan cara duduk di atas kursi dengan meja panjang di tengah-tengah. Semuanya lesehan, hanya beralas tikar atau karpet. “Orang zaman dulu tidak ada pakai kursi.