Griya Style

Pemerajan Puri Pemecutan Serupa Pura

Ngurah menjelaskan, sesungguhnya bangunan asli telah dibangun berpuluh-puluh tahun lamanya.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
Pemerajan Puri Pemecutan Serupa Pura - tribunbali-griya-puripemecutan-.JPG
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
PIODALAN - Pemerajan Puri Pemecutan terlihat sangat luas. Pemerajan tersebut merupakan sebuah pura keluarga, dan piodalan dilakukan setahun sekali pada Purnama di Bulan November.
Pemerajan Puri Pemecutan Serupa Pura - tribunbali-griya-puripemecutan-_(1).JPG
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Tempat ida padanda di Pemerajan Puri Pemecutan, Denpasar.
Pemerajan Puri Pemecutan Serupa Pura - tribunbali-griya-puripemecutan-_(2).JPG
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Pintu masuk Pamerajan Puri Pemecutan, Denpasar.
Pemerajan Puri Pemecutan Serupa Pura - tribunbali-griya-puripemecutan-_(3).JPG
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Bale tempat tinggal warga puri di jaba tandeg (jaba tengah).
Pemerajan Puri Pemecutan Serupa Pura - tribunbali-griya-puripemecutan-_(4).JPG
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Kebun puri dalem Puri Pamecutan, Denpasar.

TRIBUN-BALI.COM - Pemerajan bagi masyarakat Bali umumnya, sudah umum dan dianggap sebuah sanggah berukuran tidaklah besar.

Pembuatannya biasanya cukup untuk tempat persembahyangan keluarga.

Berbeda halnya dengan puri, pemerajan, selain luas dan lapang, juga dilengkapi jaba (halaman pertama) dan jaba tengah.

Tribun Bali berkesempatan berkunjung ke Puri Pemecutan belum lama ini. I Gusti Ngurah Gede Pemecutan mengantar Tribun Bali, hingga melihat ruang terdalam pemerajan puri.

Tanpa disangka, pemerajan puri terbilang luas, hampir menyerupai sebuah pura.

“Ya, beginilah puri kami, memang luas sekali. Nah, semua keluarga Pemecutan akan datang ke sini untuk sembahyang,” kata Ngurah sambil tersenyum.

Pemerajan tersebut merupakan sebuah pura keluarga, dan piodalan dilakukan setahun sekali pada Purnama di Bulan November.

Selain padmasana, di areal tersebut juga terdapat bangunan suci lainnya. Ngurah menjelaskan, sesungguhnya bangunan asli telah dibangun berpuluh-puluh tahun lamanya.

Hanya saja, karena kondisinya yang sudah tidak bagus lagi, akhirnya, secara keseluruhan direnovasi, terutama bagian bawahnya.

Sehingga apabila dicermati, nampak adanya perbedaan yang mencolok antara bangunan baru bata merah yang lebih cerah dengan peninggalan lama.

Meskipun diperbaiki, namun tetap mempertahankan bentuk awal, lengkap piring-piring keramik kecil yang dipasangkan pada bagian-bagian tertentu, sehingga semakin khas.

Begitu pula dengan atap padmasana, masih menggunakan jerami. Sementara itu, di setiap dinding, terdapat ukiran-ukiran yang menceritakan sebuah perjalanan tokoh-tokoh pewayangan.

Sebagaimana yang kerap ditemui, ukirannya terbilang detail dan lengkap. Halaman tempat umat bersembahyang ditata sangat nyaman, penuh rumputan hijau.

Di sekitarnya, terdapat juga pohon-pohon rindang, seperti pohon jepun dan plawa.

Selain itu, di bagian depan merajan, tampak adanya tempat kecil tempat air yang berisi bunga tunjung. Air diyakini selalu mencerminkan kesucian.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved