Griya Style
Pemerajan Puri Pemecutan Serupa Pura
Ngurah menjelaskan, sesungguhnya bangunan asli telah dibangun berpuluh-puluh tahun lamanya.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN-BALI.COM - Pemerajan bagi masyarakat Bali umumnya, sudah umum dan dianggap sebuah sanggah berukuran tidaklah besar.
Pembuatannya biasanya cukup untuk tempat persembahyangan keluarga.
Berbeda halnya dengan puri, pemerajan, selain luas dan lapang, juga dilengkapi jaba (halaman pertama) dan jaba tengah.
Tribun Bali berkesempatan berkunjung ke Puri Pemecutan belum lama ini. I Gusti Ngurah Gede Pemecutan mengantar Tribun Bali, hingga melihat ruang terdalam pemerajan puri.
Tanpa disangka, pemerajan puri terbilang luas, hampir menyerupai sebuah pura.
“Ya, beginilah puri kami, memang luas sekali. Nah, semua keluarga Pemecutan akan datang ke sini untuk sembahyang,” kata Ngurah sambil tersenyum.
Pemerajan tersebut merupakan sebuah pura keluarga, dan piodalan dilakukan setahun sekali pada Purnama di Bulan November.
Selain padmasana, di areal tersebut juga terdapat bangunan suci lainnya. Ngurah menjelaskan, sesungguhnya bangunan asli telah dibangun berpuluh-puluh tahun lamanya.
Hanya saja, karena kondisinya yang sudah tidak bagus lagi, akhirnya, secara keseluruhan direnovasi, terutama bagian bawahnya.
Sehingga apabila dicermati, nampak adanya perbedaan yang mencolok antara bangunan baru bata merah yang lebih cerah dengan peninggalan lama.
Meskipun diperbaiki, namun tetap mempertahankan bentuk awal, lengkap piring-piring keramik kecil yang dipasangkan pada bagian-bagian tertentu, sehingga semakin khas.
Begitu pula dengan atap padmasana, masih menggunakan jerami. Sementara itu, di setiap dinding, terdapat ukiran-ukiran yang menceritakan sebuah perjalanan tokoh-tokoh pewayangan.
Sebagaimana yang kerap ditemui, ukirannya terbilang detail dan lengkap. Halaman tempat umat bersembahyang ditata sangat nyaman, penuh rumputan hijau.
Di sekitarnya, terdapat juga pohon-pohon rindang, seperti pohon jepun dan plawa.
Selain itu, di bagian depan merajan, tampak adanya tempat kecil tempat air yang berisi bunga tunjung. Air diyakini selalu mencerminkan kesucian.