Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

ISIS

Waspada ISIS, Pemeriksaan di Pintu Masuk Bali Diperketat

Di pintu masuk seperti Pelabuhan Gilimanuk (dari Jawa) dikerahkan sejumlah personel, baik yang normal maupun tersembunyi.

Penulis: Manik Priyo Prabowo | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Pasca penangkapan tiga tersangka anggota Negara Islam Irak-Suriah (Islamic State of Iraq and Syria/ISIS) di Kota Malang, Jawa Timur, Kepolisian Daerah (Polda) Bali meningkatkan pengawasan dan kewaspadaan, termasuk di pintu-pintu masuk Bali.

Kapolda Bali Inspektur Jenderal (Irjen) Ronny F. Sompie mengatakan, sejauh ini belum terdeteksi adanya kelompok radikal itu di Bali. Kendati demikian, sesuai pesan Kepala Polri terkait bahaya ISIS, Ronny menegaskan bahwa kewaspadaan terus dijalankan di Pulau Dewata.

“Di pintu masuk seperti Pelabuhan Gilimanuk (dari Jawa) kita kerahkan sejumlah personel, baik yang normal maupun tersembunyi. Pengawasan dan kewaspadaan juga kami lakukan di Pelabuhan Padang Bai (dari Lombok) dan Bandara Ngurah Rai yang bekerjasama dengan pihak Angkasa Pura,” jelas Ronny ketika dihubungi Tribun Bali, Kamis (25/3/2015). (Baca Juga Berita Terkait : Penerbitan Paspor di Bali Diperketat, Antisipasi Masuknya ISIS)

Untuk diketahui, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri dibantu aparat Polda Jatim pada Rabu (25/3/2015) menangkap tiga orang di Kota Malang (Jawa Timur), yang merupakan bagian dari jaringan ISIS di Indonesia. Ketiganya adalah Abdul Hakim, Helmi Muhammad Alamudi dan Ahmad Junaedi, dan kemarin ditetapkan sebagai tersangka.

Penangkapan tersebut adalah pengembangan dari penggerebekan yang dilakukan Densus 88 di wilayah Jakarta Selatan, Bogor, Bekasi dan Tangerang Selatan.

Helmi Muhammad Alamudi merupakan koordinator dan fasilitator bagi calon anggota ISIS yang akan berangkat ke Suriah; Abdul Hakim disebut pernah pergi ke Suriah pada Agustus 2014 selama enam bulan untuk latihan militer, dan Ahmad Junaedi pada 2014 lalu juga ke Suriah untuk mengikuti pelatihan di Camp Harairy bersama Abu Jandal. (Baca Juga Berita Terkait : Imigrasi Waspadai Wisata Group ke Timur Tengah)

Junaedi merupakan orang kepercayaan Salim Mubarok Attamimi yang diyakini sebagai salah satu tokoh penting ISIS asal Indonesia. Tahun 2014 lalu, Salim sempat membuat heboh dengan menyebarkan video lewat YouTube yang berisi pernyataan tantangan duel kepada Panglima TNI.

Berdasarkan informasi yang ada,  lima pendukung ISIS yang telah tertangkap sebelumnya di Jakarta, Banten dan Jawa Barat merupakan jaringan yang lengkap. Mereka terdiri dari pencari calon anggota baru, penggalang dana, ahli propaganda, dan fasilitator pengiriman pendukung ISIS ke Suriah. Sebanyak 37 orang sudah berhasil diberangkatkan ke Suriah.

Menurut Ronny, kemungkinan bisa saja anggota kelompok radikal dari Jawa Timur menyeberang ke Bali. Karena itu, sebagai deteksi dini, warga setempat di lingkungan seperti banjar dan desa harus lebih waspada dan ketat terhadap masuknya orang asing dan pendatang baru.

Ronny yang baru dua minggu menjabat Kapolda Bali menilai, kultur masyarakat Bali lebih responsif dalam menangkal kemungkinan masuknya paham-paham radikal seperti ISIS.

Di banjar-banjar sudah ada pecalang, yang diharapkan berperan di garda depan dalam mengawasi wilayahnya.

“Aparat kami, yakni Babinkamtibmas (Bintara Pembinaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), bekerjasama dengan masyarakat untuk menangkal kemungkinan masuknya hal-hal membahayakan seperti jaringan ISIS. Selain itu, kami juga bekerjasama dengan instansi lainnya seperti TNI,” jelas Ronny yang mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved