Smart Women
Nyoman Hartini: Jatuh 10 Kali Bangkit 11 Kali
Sebelum menjadi pengusaha sukses, Nyoman Hartini SH harus melalui proses panjang dengan rintangan dan jalan berliku.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sebelum menjadi pengusaha sukses, Nyoman Hartini SH harus melalui proses panjang dengan rintangan dan jalan berliku.
Kini, dia memiliki sejumlah perusahaan. Satu di antaranya adalah CV Manik Galih, yang bergerak dalam usaha penyewaan pakaian pernikahan, wisuda, dan berbagai acara lainnya.
Selain itu, perempuan kelahiran Denpasar pada 17 Oktober 1965 itu juga tercatat sebagai pendiri BPR Dinar Jagat, dan pemilik beberapa rumah makan.
Anggota DPD Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Bali ini mengawali karir sebagai pencuci piring di sebuah restoran kecil, dan beralih menjadi pengantar makanan ke tamu.
Hartini tidak menyangka, ijazah hotel yang diraihnya ternyata tidak bisa menjamin langsung bekerja di hotel. Dia mengaku gelisah untuk terus maju dan berkembang.
Pada akhirnya, dia memberanikan diri mencoba peruntungan di sebuah hotel di Bali dengan status pekerja harian. Namun, Hartini kembali berpikir ulang.
“Sampai kapan saya akan begitu terus, kebutuhan semakin meningkat. Saya beranikan diri bertemu dengan manajer walau bahasa Inggris masih terbata-bata menyampaikan pemikiran saya,” kenang Hartini.
Dia akhirnya memilih mengundurkan diri. Pada saat itulah ada lowongan menjadi pramugari Garuda Indonesia. Hartini merasa cukup memenuhi persyaratan sebagai pramugari.
Setelah melewati 10 tes dan bersaing dengan ratusan orang, dia lulus menjadi pramugari.
Menjadi pramugari di sebuah perusahaan penerbangan ternama dengan rute yang sangat padat, membuat Hartini ditempa habis-habisan.
Dari situ dia mempelajari banyak hal-hal baru dan selalu dituntut untuk bisa sempurna, terutama dalam hal keamanan.
“Jadi ada mentor yang mengajari saya semua hal, termasuk bagaimana bersikap di dalam pesawat. Sebenarnya cukup berat pekerjaan seorang pramugari. Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan terbang, orang seperti apa yang akan kita temui,” ujarnya.
Di samping itu, melalui pelatihan yang intens, Hartini mengaku mendapat pembelajaran yang sangat bermanfaat.
Dia terlatih untuk menjadi pribadi yang cermat, sigap, cepat tanggap.
“Apalagi kalau untuk urusan keamanan, ya nilainya harus 100, tidak bisa 99,” tandas Hartini yang menjadi pramugari selama hampir delapan tahun.
Selama menjadi host bagi para penumpang yang latar yang begitu beragam, perlahan Hartini mempelajari dan memahami kecenderungan karakter seseorang.
Ia mengamati, ternyata tampak jelas perbedaan antara penumpang yang seorang pengusaha dengan yang tidak.
“Kalau pengusaha itu sepertinya dia santai, tenang, dan cool, bisa berpergian kapan saja tanpa harus minta izin dengan atasan. Dia yang mengatur dan penentu keputusan,” ujarnya.
Mulai saat itulah, terbersit di benaknya untuk menjadi seorang pengusaha. Sebenarnya saat itu sangat sudah sangat nyaman, karena dia sering jalan-jalan dan bepergian ke luar negeri.
Namun Hartini sadar, bukan hanya itu yang dicarinya. Lagipula sudah muncul keinginan untuk lebih banyak menikmati suasana rumah dan pada saat bersamaan ada penghasilan.
Tekad Hartini untuk berwirausaha semakin kuat didorong dengan kenyataan keluarga besarnya lebih banyak menjadi pengusaha.
Selain itu, baginya hanya dengan berwirausaha seorang perempuan sepenuhnya bisa mandiri.
Saat masih menjadi pramugari Hartini sudah sering diajak saudaranya di Jakarta untuk ikut serta membantu di usaha yang mereka kelola.
“Keluarga saya di sana ada yang buka rumah makan, saya sering bantu di sana. Jadi setidaknya sudah ada skill. Karena itu juga bisnis pertama yang saya buat ya rumah makan itu. Ada yang saya kelola langsung, ada juga yang joinan,” terangnya.
Setelah semua usahanya semakin berkembang dan stabil, Hartini memilih untuk menyerahkannya kepada anak-anaknya.
Hartini mengaku lebih suka mencetak, mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha baru.
“Memang di balik semua itu saya sudah berulang kali jatuh. Tapi ya, saya tetap mencoba bangkit lagi. Jadi jatuh 10 kali, bangkit 11 kali,” ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/nyoman-hartini.jpg)