Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kamar 327 Dulu Diinapi Bung Karno, 2401 Khusus Nyi Roro Kidul

Sebanyak 400 Kamar Grand Bali Beach Disewa Kongres PDIP kecuali Dua Kamar Ini

Tayang:
Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
sumber foto: tribun bali/rizal fanany
Sebuah pengumuman tertempel di depan kamar nomor 327 yang disakralkan di Hotel Grand Inna Bali Beach Sanur. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Untuk ketiga kali PDIP menggelar kongres di hotel Inna Grand Bali Beach (GBB), Sanur, Denpasar. Pertama pada tahun 2005, kedua 2010, dan ketiga pada 8-12 April 2015 ini, yang merupakan kongres ke-4 partai itu sejak bernama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada 1999.

Tidak ada penjelasan resmi mengapa Inna GBB menjadi favorit PDIP dalam menggelar hajatan besarnya. Berdasarkan keterangan resmi Panitia Pelaksana Daerah Kongres IV PDIP, sebanyak 400 peserta kongres akan menginap di Inna GBB. Selebihnya, penginapan peserta disebar di 11 hotel lainnya di sekitar kawasan Sanur. Total, ada 2.238 peserta resmi yang diperkirakan akan hadir dalam kongres.

Menurut Resident Manager Inna GBB, Ida Bagus Alit Suka, hari-hari selama berlangsungnya Kongres IV PDIP, bisa dikatakan tingkat hunian hotelnya sekitar 100 persen alias fully booked.

Kendati demikian, ada dua kamar di hotel yang letaknya persis di tepi Pantai Sanur tersebut, yang dibiarkan tidak disewakan, kendati dua kamar itu diberi nomor layaknya kamar-kamar yang lain di Inna GBB. Keduanya adalah kamar nomor 327 dan nomor 2401.

Berdiri tahun 1966, Inna GBB menyimpan cerita tersendiri mengenai keberadaan dua kamar yang diperlakukan secara khusus dan dianggap sebagai kekhasan Inna GBB itu.

Kamar 327 dan 2401 adalah kamar yang mendapat perlakuan khusus baik dari sisi perawatan fisik maupun spiritual oleh pengelola hotel.
Semasa hidupnya presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, selalu menginap di kamar ini bila datang ke Bali. Sedangkan kamar 2401 merupakan kamar yang “disiapkan” secara khusus bagi kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul, penguasa Pantai Selatan.

Di Inna GBB secara total tersedia 566 unit kamar yang tersebar di tiga bagian besar. Rinciannya: 247 unit kamar di Tower Wing (setinggi 10 lantai) yang mencakup 1 unit kamar kelas presidential suite dan 24 kelas executive suite. Selain itu, ada 208 unit kamar di Garden Wing (sebanyak empat blok bangunan dua lantai) dan 111 kamar Cottage.

Kamar 327 terletak di Tower Wing, sedangkan kamar 2401 merupakan Cottage. Ketika Inna Grand Bali Beach terbakar pada tahun 1993, kamar nomor 327 itu tidak terbakar. Pada setiap bulan Suro, ada persembahyangan di kamar 327, dan sesajennya kemudian dilarung ke laut. Selain itu, setiap tanggal 17 Agustus disediakan sesajen khusus di kamar itu.

Menurut Alit Suka, menjelang Kongres IV PDIP, pihaknya telah menggelar matur piuning. Itu adalah ritual persembahyangan untuk memohon restu secara spiritual kepada Tuhan agar kegiatan kongres berjalan lancar tanpa hambatan niskala atau nonfisik.

Matur piuning dilakukan dengan menggelar doa khusus di Pura Manik Tirtasari yang terletak di kawasan hotel dan di dua kamar yang dianggap keramat tersebut.

“Karena kita di Bali, maka setiap ada penyelenggaraan event besar seperti Kongres PDIP ini, pengelola melakukan matur piuning secara khusus agar secara niskala (spiritual) mendapat perlindungan dan seluruh acara berjalan lancar tanpa gangguan,” jelas Alit Putra, Selasa (7/4). Persembahyangan di pura serta kamar 327 dan 2401 dilakukan pada Senin (6/4) lalu.

Selain pengelola hotel, menurut Alit Suka, persembahyangan juga telah dilakukan oleh panitia penyelenggara dua minggu sebelum kongres dibuka, yang dijadwalkan Kamis (9/4).

Dijelaskan Alit Suka, persembahyangan sudah merupakan kewajiban di Inna GBB menjelang perhelatan besar seperti Kongres PDIP tersebut.

Menilik sejarah berdirinya Inna GBB, awalnya lokasi berdirinya hotel tersebut dianggap sangat tenget atau memiliki getaran spiritual yang kuat. Oleh karena itu, dalam proses pendiriannya, berkali-kali digelar upacara sampai hotel bisa terbangun, dan diresmikan pada tahun 1966 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

“Dulu tempat ini dianggap tempat keramat sebelum hotel dibangun,” terang Alit Suka.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved