Masuk MURI, Ini Lingga Tertinggi Pemujaan Dewa Siwa Ada di Buleleng
Lingga berwarna hitam yang dibalut dengan bendera merah putih di tengahnya ini banyak terkandung makna nasionalisme
Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Lingga yang berada di Purohita Pura, Desa Unggahan, Kecamatan Seririt, Buleleng, akhirnya resmi dikukuhkan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Lingga tertinggi di Indonesia, Jumat (10/4/2015).
Setelah MURI melakukan pengukuran, diketahui jika Lingga itu setinggi 5,92 meter dan keliling lingkaran mencapai 8,70 meter.
Manajer MURI, Sri Widayati mewakili Ketua Umum MURI Jaya Suprana mengatakan, Lingga itu tercatat sebagai rekor yang dicatat MURI ke 6.893.
Ia berharap pengukuhan Lingga tertinggi ini dapat lebih meningkatkan kepedulian masyarakat Bali terhadap budaya leluhur. (Baca Juga Berita Terkait : Wow, Lingga Tertinggi di Dunia Ada di Bali)
"Sebelumnya kami memang belum pernah mencatat rekor Lingga tertinggi dan terbesar di Indonesia. Lingga ini tidak hanya dicatat sebagai rekor Indonesia, karena ini juga sebagai warisan leluhur, kami juga mencatatnya sebagai rekor dunia," ujarnya.

Pengukuhan Lingga tertinggi ini ditandai dengan pemberian piagam rekor MURI kepada tiga pemrakarsa pendirian Lingga yang sudah mulai dibangun sejak setahun silam.
Di antaranya kepada Puri Agung Dharma Giri Utama, Balinesse and Indian Friendship Association (BIFA), dan Krisna Oleh-oleh.
Ketua Panitia Pelaksana, I Gusti Ngurah Budi Pertama mengatakan, pendirian Lingga ini bertujuan untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang Lingga dan lebih meningkatkan kepedulian pada budaya leluhur.
Ia juga berharap, Lingga ini dapat berkembang menjadi wisata spiritual.
"Lingga merupakan warisan budaya leluhur dan simbol pemujaan agung Dewa Siwa. Semoga dengan ini dapat menambah pengetahuan tentang pemujaan kepada Dewa Siwa dan lebih meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap budaya leluhur," ujarnya.
Asisten II Setda Buleleng, Ida Bagus Geriastika mewakili Bupati Buleleng mengatakan, pendirian Lingga ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana.
“Mudah-mudahan keberadaan lingga ini menjadi bentuk kebangkitan umat Hindu di Bali dan Nusantara. Sudah sewajibnya kita jaga dan lestarikan Lingga ini bersama-sama,” ucapnya.
Pinih Sepuh Puri Agung Dharma Giri Utama I Gusti Agung Yudistira mengatakan, Lingga berwarna hitam yang dibalut dengan bendera merah putih di tengahnya ini banyak terkandung makna nasionalisme.
Mengingat simbol-simbol negara dalam sejarahnya berkaitan erat dengan konsep sastra Hindu.
“Melalui simbol kenegaraan yang ada pada Lingga ini kami berharap supaya umat Hindu tetap fleksibel dan saling menghargai perbedaan. Lingga tertinggi ini sebagai kekuatan dan energi, agar dapat menyatukan kebersamaan berdasarkan nilai-nilai Pancasila,” tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/lingga-dewa-siwa_20150411_125716.jpg)