Hujan Terus Turun, Harga Kembang Pacah Meroket
Hujan yang selama empat hari ini tiada henti mengguyur Kabupaten Badung, khususnya di Kecamatan Mengwi, menyebabkan kembang pacah para petani di sana
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: gunawan
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Hujan yang selama empat hari ini tiada henti mengguyur Kabupaten Badung, khususnya di Kecamatan Mengwi, menyebabkan kembang pacah para petani di sana mengalami pembusukan ataupun telat mekar.
Sementara itu, untuk beberapa hari ini permintaan kembang pacah semakin meningkat.
Sebab, enam hari lagi akan memasuki Hari Raya Saraswati, Banyupinaruh dan Hari Suci Purnama.
Secara tidak langsung, keadaan tersebut menyebabkan harga pacah di pasaran mengalami kenaikan hingga dua kali lipat, Minggu (26/4/2015).
I Ketut Muklen (50) seorang petani kembang pacah di Subak Lepud, Desa Baha, Kecamatan Mengwi mengatakan, pada hari-hari biasa, harga kembang pacah dijual seharga Rp 3.000 per kilogram (kg).
Namun saat ini ia jual seharga Rp 9.000 per kg.
Harga Rp 9.000 ini, kata Mulken sudah termasuk harga yang tergolong tinggi.
Biasanya, menjelang hari raya kenaikannya hanya dalam kisaran harga Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per kg.
"Yah, mau bagaimana lagi. Kebutuhan pacah naik. Sementara panen kami tidak begitu banyak, hanya 10 kilogram per hari. Ini semua gara-gara hujan belakangan ini terus mengguyur daerah kami. Jadinya, pacah yang sudah mekar jadi busuk dan kuncup pacah juga terlambat mekar," ucapnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petani-pancah_20150426_163213.jpg)