Jembatan Penghubung Dua Kabupaten Ini Ubah Kehidupan Desa Plaga
Jembatan Tukad Bangkung, Desa Plaga, Kecamatan Petang yang dibangun setinggi 71,14 meter dan sepanjang 360 meter pada tahun 2006, saat ini menjadi p
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: gunawan
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Jembatan Tukad Bangkung, Desa Plaga, Kecamatan Petang yang dibangun setinggi 71,14 meter dan sepanjang 360 meter pada tahun 2006, saat ini menjadi persinggahan wisatawan.
Bantak wisatawan yang singgah setelah mengunjungi objek wisata Kintamani, Bangli menuju objek wisata di daerah Badung.
Keadaan tersebut pun tidak dibiarkan warga setempat. Beberapa warga memanfaatkan momen tersebut untuk mengais rejeki.
Ni Wayan Sarmi (36), satu warga Banjar Serampang, Desa Belok Sidang, Petang, Badung contohnya.
Saat ditemui Senin (27/4/2015) ia mengatakan juka setiap hari ia menghabiskan waktunya berjualan jagung rebus dan jajanan ringan di Jembatan Bangkung.
Penghasilannya pun lumayan. Setiap hari rata-rata mencapai Rp 200 ribu.
Kata dia, sebelum adanya Jembatan Bangkung, ia sama sekali tidak memiliki penghasilan.
Sebab sebelum adanya jembatan penghubung Bangli dan Badung tersebut, wilayah di seputaran Jembatan Bangkung merupakan wilayah antah berantah.
Dalam artian, untuk menuju ke sana harus berjalan kaki menuruni jurang dan menaiki bukit puluhan meter.
Karena itu, kata Sarmi, kehidupan warga setempat sangat terisolasi.
Kebutuhan hidup mereka hanyalah kebutuhan primer, yakni makanan dan tempat berteduh.
Mereka tidak mengenal teknologi, seperti handphone apalagi kendaraan.
"Setelah ada jembatan ini, orang-orang berbaju rapi dan kulit bersih banyak ke sini (wisatawan). Kami pun memanfaatkannya untuk berjualan makanan yang dipetik di ladang," ujarnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/jembatan-bangli-badung_20150427_165307.jpg)