Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Art and Culture

Inilah Pria Penghidup Seni Drama Gong di Bali

Menjadi seorang pelawak, baginya bukanlah sesuatu yang mudah, hanya mereka yang cerdas saja yang dapat melakukannya.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
Tribun Bali
Ida Bagus Raka Pudjana, pria yang lebih dikenal sebagai Komang Apel 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sekitar setengah abad lalu, Ida Bagus Raka Pudjana yang lebih dikenal sebagai Komang Apel, begitu aktif menghidupkan seni drama gong di Bali.

Bersama seniman tradisi lainnya yang tergabung di Bali Bintang Timur, dia pentas siang malam hingga ke daerah pelosok sekalipun.

Kini Ida Bagus tidak dapat lagi melakoni dunia panggungnya sebagai pelawak.

Semakin bertambahnya usia, membuat Ida Bagus terpaksa harus undur dan mengambil jeda sejenak.

Sebagai obat kerinduannya pada kesenian, dia menyediakan ruang kepada para penabuh dan penari untuk tampil setiap hari dalam pertunjukan barong di Jalan Waribang, Kesiman, Denpasar, Bali.

“Setelah berpuluh tahun bermain drama, pentas hingga subuh, saya sempat sakit dan dokter menyarankan untuk berhenti dulu, sama sekali tidak boleh bergadang,” tuturnya saat ditemui Tribun Bali di kediamannya, Jalan Pralina No 8, Denpasar, Bali, Jumat (1/5/2015).

Ida Bagus mengaku, saat memutuskan berhenti bermain drama, dia merasa kondisinya sangat kelelahan.

Dalam satu bulan, dia bisa pentas hingga 30 kali dalam jarak yang cukup jauh dan hanya menggunakan truk.

Belum lagi waktu pementasan yang terbilang panjang, yakni hingga 5 jam.

Sedari awal dia menyadari, tidak akan bisa seterusnya menjadi pemain drama mengingat akan semakin bertambahnya umur.

Namun dia merasa panggilan untuk mengabdi pada seni tradisi tidak bisa ditinggalkan.

“Saya pikir, pekerjaan apa yang bisa menopang di hari tua. Jadilah tempat pertunjukan barong. Itu bukan bisnis pribadi semata, melainkan bagaimana saya merangkul kawan-kawan seniman yang lain, termasuk yang dari Batubulan, Peguyangan, maupun Sanur,” tuturnya.

Ida Bagus sudah mulai bergabung dalam seni pertunjukan sejak tahun 1964.

Mulanya, atas anjuran kelihan adat agar masyarakatnya membuat sekaa janger dan kecak.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved