Pesta Kesenian Bali
Gung Aji Sebut Hujan Saat Pementasan Adalah Berkah
Sebelum para seniman Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung tamil dalam acara PKB ke-37, Selasa (16/6/2015), hujan mengguyur sekitaran Ar
Laporan Wartawan Tribun Bali, AA Putu Santiasa
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sebelum para seniman Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung tamil dalam acara PKB ke-37, Selasa (16/6/2015), hujan mengguyur sekitaran Art Centre Denpasar, Bali.
“Sudah biasa pasti akan hujan, kalau pentas di Desa Kapal selalu hujan, jadi saya tidak khawatir. Kita pentas satu tahun sekali,” ujar penanggung jawab pementasan pagelaran kesenian rekontruksi Baris Magpag Yeh Desa Adat Kapal Fragmentari “Pangkung Bencula”, AA Bagus Sudarma.
Namun Gung aji Sudarma menerangkan hujan yang terjadi bukan merupakan musibah dalam pementasan, tapi sebuah berkah karena hujan dan air adalah lambang kehidupan.
Menurutnya tari ini merupakan salah satu tari yang dipentaskan dalam sebuah upacara Mendak Toya Di salah satu pura Desa Adat Kapal.
Tarian ini menceritakan tentang Prabu Kertajasa dalam kebijaksanaannya tergerak menelusuri kekeringan di daerahnya.
Kemudian setelah beberapa hari mencari datanglah air bah yang mengahapus kekeringan.
Ketika ditelusuri air bah tersebut bersumber dari Pangkung Bencula.
Kemudian disana Prabu Kertajasa menjumpai pertapa kecil yang setiap hari menancapkan sebilah bambu dan batu. Dari bendungan tersebut air terbendung dan naik mengalir ke daratan Kerajaan Singasari.
Anak tersebut tidak lain dan tiada bukan ialah anak Raja Kertajasa yang telah lama hilang. Dan menetapkang Pangkung Bencula sebagai sumber kemakmuran.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/baris-magpag-pkb_20150616_153307.jpg)