Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Hari Raya Galungan

2 Sulinggih Pastikan Galungan Kali Ini Bukan Galungan Nara Mangsa

Menurut keduanya, Galungan Nara Mangsa bertepatan dengan Tilem Sasih Kepitu atau Tilem Sasih Kesanga. Ini penjelasan selengkapnya..

Penulis: I Made Argawa | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Di media sosial seperti facebook dan twitter, Jumat (10/7/2015), ramai dibahas mengenai Hari Raya Galungan yang jatuh pada 15 Juli 2015.

Ada yang menyebut bahwa Galungan kali ini adalah Galungan Nara Mangsa karena wuku dunggulan jatuh saat hari Tilem.

(Baca Juga Berita Terkait: Perayaan Galungan Nara Mangsa Pantang Menggunakan Daging)

Pada Juli ini, ada dua hari Purnama Sasih Kasa tanggal 1 dan Purnama Sasih Karo tanggal 30, sementara Tilem Sasih Kasa jatuh pada tanggal 16 bertepatan dengan Umanis Galungan.

Tilem Sasih Kasa pada Wuku Dunggulan itulah yang kemudian disebut-sebut sebagai Galungan Nara Mangsa di media sosial.

Namun dua sulinggih, Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda dan Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda, sama-sama menyatakan Galungan kali ini bukan Galungan Nara Mangsa.

Menurut keduanya, Galungan Nara Mangsa bertepatan dengan Tilem Sasih Kepitu atau Tilem Sasih Kesanga.

Mpu Jaya Prema menjelaskan, Galungan Nara Mangsa dapat terjadi ketika rentetan perayaan Galungan yakni Hari Pengejukan/Penyajahan, Hari Penampahan, Hari Raya Galungan, dan Hari Umanis Galungan bertepatan dengan Sasih Kapitu (Hari Raya Siwalatri) dan Sasih Kesanga (Hari Raya Nyepi).  

Selama masih tidak bertepatan, pemilik Ashram Manik Geni yang berada di Desa Pujungan, Pupuan, Tabanan itu mengatakan bukan Galungan Nara Mangsa.

“Jika bertepatan iya, tapi jika tidak atau berjarak beberapa hari tidak termasuk,” ujarnya kepada Tribun Bali, Jumat kemarin.

Karena itu, Galungan pada tanggal 15 Juli nanti bukan sebagai Galungan Nara Mangsa.

Meskipun dalam rangkaianya ada Tilem, yakni pada Hari Raya Umanis Galungan, tapi itu Tilem Sasih Kasa bukannya Sasih Kapitu atau Sasih Kasanga.

Pemuka Agama yang hingga kini masih bergelut dengan dunia jurnalistik dan menulis buku tidak menampik adanya perbedaan tafsir di kalangan umat terkait dengan pelaksanaan Galungan Nara Mangsa.

Ada yang menganggap jika bertepatan dengan Tilem saja sudah masuk ke Galungan Nara Mangsa tapi ada yang tidak.

“Itu sah-sah saja sesuai dengan dresta atau kebiasaan yang berlaku setempat,” katanya.

Galungan Nara Mangsa pernah terjadi beberapa tahun lalu sekitar awal tahun 2.000.

Saat itu sempat terjadi ketidaktahuan di kalangan umat.

"Tapi dengan pemahaman dan pencerahan dari pemuka agama hal tersebut bisa lebih terang,” ujar Mpu Jaya Prema. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved