Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Art and Culture

Militan Art Stimulus Para Pelukis Melalui Pameran Ulu Teben

Empat tahun kebersamaan para seniman Militan Art, akhirnya menuai aneka karya yang dihadirkan dalam pameran Ulu Teben.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Irma Yudistirani
Tribun Bali
Empat tahun kebersamaan para seniman Militan Art, akhirnya menuai aneka karya yang dihadirkan dalam pameran Ulu Teben. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Empat tahun kebersamaan para seniman Militan Art, akhirnya menuai aneka karya yang dihadirkan dalam pameran Ulu Teben.

Selama hampir dua pekan, hingga akhir Juni lalu, 30 perupa dari lintas komunitas itu menggelar pameran bersama di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar.

Konsep Ulu Teben yang diusung kali ini bermula dari pandangan imajinatif, yakni kebebasan para perupa untuk menuangkan segala tafsirnya.

Masing-masing menawarkan berbagai kemungkinan, termasuk upaya melampaui keterikatan, meski telah disepakati satu tema.

Para seniman lintas komunitas itu antara lain berasal dari Galang Kamgin, Hitam Putih, Sanggar Dewata, dan Ten Art.

Komunitas yang diketuai I Ketut Suasana “Kabul” itu sedari awal menekankan, mereka memang tidak muluk-muluk menjanjikan apapun untuk seni rupa.

Mereka hanya ingin berbuat semampunya, atas rasa tanggungjawab sebagai pelaku seni. 

Pameran itu dinilai sebagai stimulus bagi para pelukis di Militan Art yang juga lintas generasi.

Meski diberikan kebebasan, namun dalam pameran perdana Militan Art itu, semua karya perupa disuguhkan dalam ukuran yang sama, yakni 250 x 135 cm.

Publik dapat menyaksikan beragamnya objek-objek yang dibidik oleh setiap pelukis.

Selama ini konsep Ulu Teben boleh dikata lebih identik dengan gunung dan laut.

Namun pemaknaan masing-masing perupa tidak hanya terkungkung pada pengertian itu.

“Dalam proses kreatifnya, tentu ada pertimbangan estetika. Hanya saja semuanya kemudian bermuara pada pesan. Masing-masing memiliki konsep dan pesan,” terang anggota Militan Art, Made Supena.

Misalkan saja karya Kabul yang mengambarkan pertemuan antara lesung dan lu, dua perabotan rumah tangga tradisional.


(Tribun Bali/ Ni Ketut Sudiani)

Kabul memandang, Ulu Teben merupakan pertemuan Ardanaraswari, antara feminim dan maskulin yang disimbolkan dengan “Lesung-lu”.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved