Patung Keluarga Bali Lestari Ini Dibuat untuk Lestarikan Nyoman dan Ketut
Mungkin 40 atau 50 tahun lagi kearifan lokal ini akan hilang. Nyoman dan Ketut jadi susah ditemui karena nama warganya hanya sampai Wayan dan Nengah
Penulis: I Gede Jaka Santhosa | Editor: gunawan
TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Melestarikan budaya, adat atau kearifan lokal di Bali ternyata bisa melalui berbagai cara. Seperti di Desa Baluk, Negara, Jembrana contohnya, untuk menghindari punahnya penamaan Nyoman (Komang) dan Ketut, pihak Desa kemudian membangun patung Keluarga Bali Lestari yang terdiri dari; Bapak, Ibu serta empat orang anak.
Patung yang tingginya sekitar 10 meter dan berwarna putih ini berdiri di Banjar Rening, Desa Baluk, tepatnya di perbatasan Desa Baluk dengan Desa Cupel, Negara.
Jika biasanya di masing-masing Desa/Kelurahan ada patung Keluarga Berencana (KB) dengan susunan Bapak, Ibu, anak pertama serta anak kedua, maka patung ini sedikit lebih ramai dengan susunan keluarga; Bapak, Ibu, anak pertama yang biasa dinamai dengan Wayan, Putu, Gede, atau Iluh, anak kedua yang biasa dinamai Nengah, Kadek, Kade, atau Made, anak ketiga yang biasa dinamai Nyoman atau Komang, serta anak keempat yang biasa dinamai dengan Ketut.
Sejatinya, pendirian patung Keluarga Bali Lestari ini bukan bermaksud berseberangan dengan program KB yang digaungkan oleh Pemerintah.
Selain mengganti patung KB yang sudah rusak, pendirian patung ini juga atas masukan dari masyarakat di Desa Baluk.
"Patungnya dipelaspas tanggal 20 Juni 2015 lalu. Awalnya untuk mengganti patung KB yang sudah rusak dan tinggal setengahnya saja. Tapi dengan masukan dari warga dan keprihatinannya terhadap kearifan lokal yang mulai hilang, maka diputuskanlah untuk membangun patung Keluarga Bali Lestari ini," ungkap Kepala Desa Baluk, I Ketut Suasana.
Menurutnya, pendirian patung ini digagas oleh sejumlah warganya yang bekerja di luar negeri yang prihatin akan kearifan lokal Bali yakni penamaan anak ketiga (Nyoman/Komang) dan anak keempat (Ketut) yang belakangan ini mulai jarang ditemui.
"Mungkin 40 atau 50 tahun lagi kearifan lokal ini akan hilang. Nyoman dan Ketut jadi susah ditemui karena nama warganya hanya sampai Wayan dan Nengah saja," bebernya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/patung-bali-lestari_20150804_183208.jpg)