Citizen Journalism

Sumber Air Yang Tak Pernah “Tuh” di Pantai Atuh Nusa Penida

Pantai Atuh selain dapat dinikmati keindahan alamnya, rupanya telah lama difungsikan untuk melakukan berbagai kegiatan persembahyangan.

Sumber Air Yang Tak Pernah “Tuh” di Pantai Atuh Nusa Penida
istimewa
Pantai Atuh di Nusa Penida, Klungkung, Bali 

PANTAI Atuh merupakan salah satu daya tarik wisata yang terletak di Banjar Pelilit, Desa Pejukutan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Dari Pelabuhan Sampalan, pantai ini dapat ditempuh dalam jarak 25 kilometer dalam waktu 2 jam.

Nama Pantai Atuh mulai dikenal sebagai destinasi wisata sejak tahun 2010-an, terutama sejak diselenggarakannya Festival Nusa Penida. Kunjungan ke pantai ini biasanya meningkat sebanyak 40 persen di masa-masa liburan. Saat itu, wisatawan akan menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan eksotis dari pantai ini.

Bagi yang menyukai outbond, Pantai Atuh dapat menjadi salah satu destinasi pilihan. Untuk mencapai pantai ini, pengunjung harus berjalan kaki dengan trek batu karang dan kapur sejauh kurang lebih 2 km. Selama tracking, pengunjung akan disuguhkan pemandangan perbukitan di sebelah timur dan pemandangan laut lepas di sebelah barat.

Pesona yang ditawarkan Pantai Atuh adalah pemandangan pantai yang terapit oleh tebing. Airnya yang jernih memungkikan kita untuk dapat menikmati keindahan biota bawah laut, seperti terumbu karang. Saat air surut, akan terlihat kumpulan karang yang mencuat di atas pasir putih.

Dari Pantai Atuh, kita dapat melihat gugusan pulau karang. Ada empat pulau karang yang terlihat, yaitu Pulau Batu Melawang/Pepadasan, Pulau Batu Abah, Pulau Batu Paon, dan Pulau Bukit Jineng.

Pulau Melawang atau Pulau Pepadasan merupakan pulau karang terbesar di gugusan pulau tersebut. Masyarakat setempat juga sering menyebut pulau ini sebagai “batu bolong” karena di pulau tersebut memang terdapat semacam terowongan karang. Menurut kepercayaan masyarakat, setiap perahu nelayan yang ingin berlayar dari Pantai Atuh menuju laut lepas harus melewati lubang tersebut.

Belum diketahui alasan munculnya mitos tersebut, namun demikian bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Pantai Atuh, mitos tersebut memiliki nilai magis tersendiri sehingga masyarakat tidak berani melanggar mitos tersebut.

Pantai Atuh juga menjadi tempat hidup dari ikan mola-mola. Ikan ini dapat ditemukan terutama di sekitar Pulau Batu Abah.

Pantai Atuh selain dapat dinikmati keindahan alamnya, rupanya telah lama difungsikan untuk melakukan berbagai kegiatan persembahyangan. Tak jauh dari bibir pantai, terdapat sebuah pura yang bernama Pura Atuh. Pura ini sering didatangi masyarakat umat Hindu di sekitar Desa Pejukutan dan Tanglad, terutama saat rerahinan.

Di bagian barat pura terdapat dua buah mata air yang sampai saat ini masih sering digunakan oleh masyarakat. Salah satu mata air tersebut dianggap keramat, karena hanya digunakan untuk kepentingan upacara adat. Sementara mata air yang lain dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk berbagai kepentingan hidup.

Menurut Kepala Dusun Pelilit, I Wayan Satu Nusantara, terdapat cerita menarik dibalik timbulnya dua mata air tersebut. Konon, dahulu pada musim kemarau, seorang warga melihat burung perkutut sedang minum air di bawah pohon kelapa. Kemudian, malam harinya warga tersebut mendapat pawisik (wahyu) untuk mendirikan mata air di tempat minum burung perkutut tersebut.

Setelah ditelusuri, ternyata di bawah pohon tersebut terdapat sumber mata air. Meskipun keberadaan kedua mata air tersebut berdekatan dengan pantai, namun pada kenyataannya air tersebut terasa tawar. Keunikan lainnya, sumber mata air tersebut tidak pernah mengalami kekeringan walau musim kemarau. Maka, warga sekitar menamakan pantai tersebut dengan nama Pantai Atuh. Dimana arti dari kata Atuh diambil dari kata “A” yang artinya ‘tidak’ dan “Tuh” yang artinya ‘kering’, jadi dapat diasumsikan kata “Atuh” artinya ‘tidak pernah kering’.

Bagi yang menyukai kegiatan berkemah, bagian barat dan selatan Pura Atuh dapat menjadi lokasi kemah yang menyenangkan. Namun perlu diingat bahwa setiap pengunjung harus menjaga kelestarian alam Pantai Atuh agar keindahannya tetap terjaga.(*)

Oleh : Diah Paramitha

Anggota KKN PPM XI Unud

Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved