Pura Jagatnatha Yogyakarta
Indahnya Perpaduan Jawa dan Bali di Pura Jagatnatha Yogyakarta
"Nama saya Jero Mangku Sastro Widodo. Di Jawa Jero Mangku disebut Wasih," ujarnya saat memperkenalkan diri.
Penulis: Komang Agus Ruspawan | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, YOGYAKARTA - Pura Jagatnatha Banguntapan menjadi kebanggaan umat Hindu di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Pengempon pura ini bukan hanya perantau asal Bali, tapi juga warga Jawa asli.
(Baca Berita Terkait: Pura Jagatnatha Yogyakarta Dulunya Tempat Bertapa Hamengku Buwono II)
"OM Swastiastu Pak Mangku, tiang saking Bali."
Demikian saya menyapa seorang penglingsir yang masuk ke area Pura Jagatnatha Banguntapan.
Beliau adalah Jero Mangku di pura yang berlokasi di Desa Plumbon, Kelurahan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini.
Kamis (10/9/2015) sore itu, sang Jero Mangku memakai baju kaos putih, training biru, serta sebuah selendang terikat di pinggang.
Dia tampak ramah sembari menyambut salam panganjali saya,"Om Swastyastu," ujarnya dengan suara agak pelan.
Saya kembali memperkenalkan diri, lalu meminta waktu untuk melakukan wawancara.
Bahasa Bali menjadi pilihan saya agar tampak lebih akrab.
Dalam benak saya, Pak Mangku ini pastilah orang Bali.
Namun ternyata dugaan saya meleset 180 derajat.
"Saya orang asli Jawa. Saya Banguntapan sini," kata Pak Mangku, yang pendengarannya mulai mengalami gangguan itu.
"Nama saya Jero Mangku Sastro Widodo. Di Jawa Jero Mangku disebut Wasih," ujarnya saat memperkenalkan diri.
Pria yang mengaku menjadi Jero Mangku sejak 1976 ini menjelaskan, pemedek atau pengempon Pura Jagatnatha tidak hanya warga perantau Bali, tapi juga penduduk asli Banguntapan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/seorang-pamedek-di-pura-jagatnatha-yogyakarta_20150912_101356.jpg)