Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Griya Style

Unik, Dapur Bambu Milik Pribadi Dibuat Terbuka di Tepi Sungai Penatih

Untuk pilar dapur, dia sengaja tetap menggunakan akar-akar pohon, sehingga serasa seperti benar-benar berada di tengah rimbunan pohon kelapa.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Rizal Fanany
Suasana dapur dengan nuansa bambu di kediaman Anak Agung Gede Oka Arnaya, di Jalan Trenggana Gang IV A, Denpasar, Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kediaman Anak Agung Gede Oka Arnaya tampak mencolok di antara deretan rumah lainnya yang ada di Jalan Trenggana Gang IV A, Denpasar, Bali.

Seseorang yang berkunjung ke sana, boleh jadi segera teringat dengan Green School yang keseluruhan bangunannya terbuat dari bambu.

Bagian yang paling unik dan kerap menarik perhantian pengunjung adalah dapurnya.

Selain terbuka dan berada tepat di tepi Sungai Penatih, juga ditata layaknya sebuah restoran.


Dapur bambu Gung Arnaya (TRIBUN BALI/RIZAL FANANY)

Bahkan Gung Arnaya secara khusus membuat tempat berkumpul bersama di dekat dapurnya yang dirindangi oleh pepohonan.  

“Saat membangun tempat ini, kami menggunakan konsep wariga, yakni perhitungan hari baik dan hari buruk. Kami banyak mendapat arahan dari Ida Pedanda Nyoman Temuku. Hal ini penting agar terjadi keselarasan antara pemilik rumah dengan alam di sekitarnya. Dalam perhitungan ini, disesuaikan dengan tanggal kelahiran pembuat rumah,” terang Gung Arnaya saat Tribun Bali berkunjung.

Dia menekankan, nafas alam dan pemilik rumah harus selaras. Karena itu pula, setiap detail di sudut rumahnya selalu dipertimbangkan dengan matang agar tidak melawan kehendak alam.

Hal ini terlihat jelas pada bagian dapurnya.

Gung Arnaya menekankan, segala hal di dalam dapur itu ditata sedemikian rupa agar memberikan nuansa pedesaan.

Dia sangat ingin merasakan kehangatan dan keguyuban kampung di dalam rumahnya, meskipun berada di tengah keriuhan kota.


Dapur bambu Gung Arnaya (TRIBUN BALI/RIZAL FANANY)

Dapur yang didirikan lima tahun lalu itu bersamaan dengan bangunan lainnya, sebagian besar bahannya berasal dari alam.

Gung Arnaya menggunakan bambu, batang pohon mangga, batang pohon kelapa, termasuk tanah taro.

“Sebagian besar bahan ini saya dapatkan langsung dari alam. Ya, kami mengambilnya di sekitar sini saja. Biayanya jadi tidak mahal, karena kami membelinya murah, dan ada yang langsung mengambil di area dekat sini,” jelasnya.

Meskipun terbilang tidak mahal, namun Gung Arnaya sangat memperhatikan perawatan dan ketahanan bahan-bahan yang digunakan.

Apalagi untuk bagian atap dapur, dia juga menggunakan bambu.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved