Lukisan Khas Kamasan, Cat Berbahan Dasar Batu Gamping
Seorang perempuan paruh baya duduk bersimpuh di antara puluhan lukisan hasil karyannya. Sembari memegang kain blacu kusam, tatapannya tidak teralihkan
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: gunawan
TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA – Seorang perempuan paruh baya duduk bersimpuh di antara puluhan lukisan hasil karyannya. Sembari memegang kain blacu kusam, tatapannya tidak teralihkan dari apa yang sedang digarapnya saat itu.
Ni Ketut Suarni (65), warga Banjar Sangging, Kamasan, Klungkung adalah satu dari puluhan perempuan yang tengah melukis di Suar Galery, Banjar Pande Mas, Desa Kamasan, Klungkung, Bali, Rabu (21/10/2015).
Saat itu ia terlihat sangat fokus mewarnai lukisan tradisonal khas Kamasan yang tengah digarapnya.
Walaupun mengaku penglihatannya tidak lagi bagus, dengan menggenakan kaca mata ia masih terampil memberikan polesan warna terhadap helai demi helai kain blacu untuk dijadikan sebuah karya yang memiliki nilai jual tinggi.
"Saya melukis sejak kecil, karena terbiasa melihat orang tua yang juga pelukis. Sejak kecil jiwa saya memang untuk lukisan ini, darah seni lukis kamasan ini mengalir dengan sendrinya," ujar Suarni sembari tersenyum, Rabu.
Menurutnya, gaya lukisan tradisonal Kamasan yang sudah ada sejak masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong tersebut sudah menjadi jati dirinya.
Sehingga, setiap aktivitasnya tidak dapat terlepas dari karya seni yang menjadi sisa dari kejayaan Kerajaan Gel-gel di masa lampau tersebut.
"Ada banyak tema cerita atau epos klasik di lukisan kamasan ini, ada yang menggambarkan kisah Ramayana, Palelintangan, dan Karma Phala yang semuanya memiliki nilai filosofi bagi kehidupan," terangnya sembari terus fokus melanjutkan lukisannya.
Berbeda dengan lukisan pada umumnya, gaya klasik dari lukisan tradisional Kamasan masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat Desa Kamasan.
Setiap pelukis di Kamasan masih menjadikan lukisan tersebut sebagai maskot ataupun ciri khas lukisan mereka.
Selain memiliki corak khas berupa pewayangan klasik, cara serta peralatan untuk membuatnya pun masih dipertahankan secara tradisonal.
"Saat menggambar atau membuat sketnya, masyarakat di sini masih menggunakan pensil yang terbuat dari lidi pohon aren. Sedangkan, untuk cat perwarnanya sendiri kita masih pakai batu pere (batu gamping)," terang Suarni.
Ia menjelaskan, batu gamping yang akan ia gunakan sebagai pewarna terlebih dahulu harus dicelupkan dalam air.
Setelah itu, batu tersebut harus di ulek atau dikikis sehingga menghasilkan serpihan berupa bubuk yang dapat difungsikan menjadi tinta berwarna khas kuning kecoklatan yang menjadi warna dasar yang khas dari lukisan Kamasan.
"Untuk warna lainya kita campur tinta biasa, tapi bahan dasarnya tetap batu pere. Sekarang batu pere sudah sulit kita dapatkan dan hanya bisa kita dapatkan di kawasan Serangan, Denpasar. Meskipun ada, harga batunya sudah relatif mahal," keluh Suarni sembari memperlihatkan batu gamping yang ia fungsikan sebagai pewarna alami.
Meskipun sudah tidak muda lagi, Suarni tetap memiliki harapan agar dirinya masih mampu melukis hingga akhir hayatnya.
Dan dirinya juga berharap agar lukisan tradisional Kamasan dapat lebih mendunia.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/lukisan-kamasan_20151021_161020.jpg)