Drs Suyadi, Nama Asli Pak Raden, Ia Mengamen dan Jual Lukisan Untuk Berobat
Sebelum berobat alternatif, Pak Raden ingin menemui Jokowi saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ia ingin menjual lukisannya.
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Dua dongeng ipernah diceritakan Pak Raden di halaman Balai Kota DKI Jakarta.
Tentang “Mari Buka Celana" dan "Bersyukur".
Rupiah yang diperolehnya untuk sekadar menyambung hidup.
Mengamen dan menjual lukisan.
Itulah yang dilakoni Drs Suyadi alias Pak Raden untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari setelah Film Serial Si Unyil tamat.
Pak Raden hidup dalam keterbatasan ekonomi hingga akhirnya meninggal dunia, Jumat (30/10/2015) malam, di RS Pelni Petamburan, Jakarta dalam usia 83 tahun.
(Ternyata Inilah Sosok Boneka Kesayangan Pak Raden)
Dua tahun lalu, tepatnya 3 Oktober 2013, Tribun Bali bertemu Pak Raden di tempat pengobatan alternatif H Dimas Bumiaji, di Jalan Rukem, Rawamangun, Jakarta Timur.
Ketika itu Pak Raden telah berusia 80 tahun.
Kumis tebal, lengkap dengan blangkon dan jas hitam khas pakaian daerah, ciri khasnya masih menempel begitu Pak Raden turun dari taksi.
Terpapah menggunakan tongkat panjang, dan dibantu seorang asisten, Pak Raden berjalan pelan menuju sebuah rumah untuk menjalani pengobatan atas sakit yang dideritanya.
Ketika itu Pak Raden mengaku mengidap osteoartritis, penyakit pada sendi tulang atau biasa disebut encok.
Lantaran penyakit persendiannya, Pak Raden tak dapat mengerjakan lukisan, coretan, dan mendongeng yang menjadi sumber penghasilan utamanya.
(Sebelum Meninggal, Ini yang Selalu Bikin Pak Raden Bersedih)
Sebelum berobat alternatif, beberapa hari sebelumnya Pak Raden berusaha menemui Joko Widodo atau Jokowi yang ketika itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pak-raden-semasa-hidup_20151031_131129.jpg)