Atasi Hama Tikus, Uma Wali Kembangkan Penangkaran Burung Hantu
Ia bersama rekannya I Made Jonita kini telah memiliki 12 ekor burung hantu jenis tyto alba.
Penulis: I Made Argawa | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN –Komunitas Tabanan Lover (Talov) membentuk Uma Wali atau perayaan sawah sekitar tahun 2013.
Setelah berjalan dan melihat kondisi pertanian Tabanan dengan permasalahan hama tikusnya akhirnya dibentuk konservasi burung hantu. Satu di antaranya dilakukan oleh I Putu Partayasa.
Saat ditemui pada diskusi di Desa/Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, Jumat (6/11/2015) mengatakan, konservasi burung hantu sudah berjalan enam bulan.
“Enam bulan yang lalu saya dan beberapa teman di Talov dan projek Uma Wali bersepakat membentuk konservasi burung hantu yang bertujuan mengendalikan hama tikus di Tabanan,” ujar pria yang akrab disapa Parta Liong itu, kemarin.
Ia bersama rekannya I Made Jonita kini telah memiliki 12 ekor burung hantu jenis tyto alba.
Awalnya mendapatkan burung hantu dari Kantor Kepala Desa Pandak Badung, Kecamatan Kediri, Tabanan.
Ia mendapatkan seekor burung hantu yang kakinya terluka terkena tali layangan dengan usia dua bulan.
Sekarang konservasi dan pengembangan di Banjar Pagi, Desa/Kecamatan Penebel, Tabanan.
Pria sehari-hari bekerja sebagai petani dan menggarap sawah satu hektare di Banjar Dukuh, Penebel, Tabanan itu menceritakan, tidak hanya di Kantor Desa namun hingga Kantor Camat Kediri dan Kantor Camat Tabanan mencari untuk menyelamatkan burung hantu.
“Di Kantor Camat Kediri kami dapatkan empat ekor sebulan setelah di Pandak Bandung. Kantor Camat Tabanan tujuh ekor dengan usia satu setengah bulan. Empat setengah bulan terakhir ini kami fokus pemeliharaan. Jenis semuanya tyto alba,” terangnya.
Pihaknya juga sedang gencar sosialisasi kepada petani di Penebel dan sekitarnya terkait keberadaan konservasi burung hantu.
Menurutnya kendala terganjal dana pembuatan rumah burung hantu (rubuha).
“Program konservasi burung hantu ini bersifat swadaya, kami kesulitan pembuatan rubuha. Beberapa waktu lalu sempat dibantu siswa mendirikan tiga rubuha di Banjar Pagi,” terangnya.
Ia berharap agar petani bisa mendirikan rubuha paling tidak satu rumah burung hantu per subak.
“Dalam semalam burung hantu bisa makan hingga tiga ekor tikus. Jika aktif terbang, rata-rata bisa membunuh delapan ekor tikus,” ujarnya.
Pihaknya juga berencana sebulan ke depan melepas dua hingga tiga ekor burung hantu dengan usia tujuh hingga delapan bulan ke alam bebas. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/burung-hantu_20151107_123135.jpg)