Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Gubernur Bali Minta Warga Bhujangga Waisnawa Tidak Eksklusif

Warga Bhujangga Waisnawa pada zamannya memiliki kemampuan intelektual dan kebijaksanaan sebagai pengayom dan pelindung.

Tayang:
Editor: Kander Turnip
Humas Pemprov Bali
Gubernur Bali Made Mangku Pastika pada acara Mahasabha III Maha Warga Bhujangga Waisnawa di Hotel Grand Ina Bali Beach Sanur, Denpasar, Bali, Sabtu (14/11/2015). 

TRIBUN-BALI.com, DENPASAR - Secara historis, warga Bhujangga Waisnawa merupakan keturunan Rsi Markandeya yang dipercaya menjadi penasihat raja, dan memimpin upacara yadnya pada zamannya.

Hal tersebut berarti warga Bhujangga Waisnawa pada zamannya memiliki kemampuan intelektual dan kebijaksanaan sebagai pengayom dan pelindung, serta menguasai semua bidang ilmu dan keahlian sebagaimana seorang brahmana.

Selanjutnya kewajiban warga Bhujangga Waisanawa sebagai pelindung tersebut juga telah ditegaskan kembali oleh Mpu Kuturan sebagai keturunan Bhujangga Waisnawa.

Dan hal ini sepatutnya diwarisi oleh para pratisentananya dengan meneruskan pengabdian tersebut, dalam tatanan kehidupan zaman global saat ini.

Demikian disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, saat membuka secara resmi pelaksanaan Mahasabha III Maha Warga Bhujangga Waisnawa di Hotel Inna Grand Bali Beach Sanur, Denpasar, Sabtu (14/11/2015).

“Para moncol dan para Panglingsir saya harapkan melahirkan berbagai program paiketan pasemetonan, sehingga warga Bhujangga Waisnawa tidak tergilas zaman,“ ujarnya.

Lebih jauh disampaikan Pastikan, bangkitnya berbagai paiketan pasemetonan di Bali merupakan suatu kebanggaan, namun di satu sisi menurutnya juga merupakan satu kekhawatiran apabila satu paiketan mengeksklusifkan diri, hanya tumbuh dalam kelompoknya, dan menyatakan diri paling benar sehingga akan menimbulkan pertentangan dan perpecahan antar pasemetonan.

Pastika menyatakan dirinya selalu hadir di setiap pelaksanaan Mahasabha paiketan-paiketan di Bali, untuk mengingatkan hal tersebut.

“Saya selalu menyampaikan di setiap acara pasemetonan, saya mohon dengan sangat pasemetonan jangan eksklusif, jangan merasa benar sendiri, jangan merasa hebat sendiri, jangan merasa paling berjasa sendiri, karena akan berpeluang memecah Bali yang kecil dan sedikit ini,” ujar Pastika.

Pastika juga mengimbau warga pasemetonan agar peka terhadap kondisi sosial umatnya dan masyarakat Bali.

Filosofi menyama braya diminta Pastika tidak hanya dibanggakan sebagai sebuah slogan yang adiluhung, tetapi harus diimplementasikan dalam program pasemetonan.

Misalnya dengan program membantu keluarga semeton yang kurang mampu.

“Warga Bhujangga Waisnawa harus berguna, tidak hanya bagi keluarga dan semeton sendiri, tetapi juga bagi krama Bali secara menyeluruh,” kata Pastika.

Sementara itu Ketua Umum Maha Warga Bhujangga Waisnawa, Guru Nyoman Sugitha, memaparkan pelaksanaan Mahasabha kali ini merupakan yang ketiga kali.

Mahasabha digelar setiap 5 tahun sekali dan dilaksanakan pertama pada tahun 2005.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved