Hari AIDS Sedunia
Pergaulan Bebas, Penderita HIV-AIDS di Bali Terbanyak Usia 20-29 Tahun
Jumlah penderita HIV/AIDS di Bali sampai Oktober 2015 sebanyak 12.727 orang. Menurut jenis kelamin dan wilayahnya, baca di sini..
Laporan Wartawan Tribun Bali, AA Gde Putu Wahyura
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jumlah penderita HIV/AIDS di Bali sampai Oktober 2015 sebanyak 12.727 orang.
Rinciannya jumlah HIV sebanyak 7.058 orang, sedangkan AIDS 5.669 orang.
Sebagian besar ditemukan kasus di wilayah Denpasar 39,1%.
Dari kelompok umur pengidap HIV/AIDS di Bali paling banyak di usia 20-29 tahun yakni sekitar 4.834 atau sekitar 38%, diikuti usia 30-39 tahun yakni dengan prosentase 35,8% atau sebanyak 4.551 orang.
Sedangkan untuk studi kasus jumlah HIV/AIDS per tahun, jumlah HIV/AIDS paling banyak di tahun 2014 yakni sebanyak 2.221 atau 17,5%, lalu diikuti dengan tahun 2015 yakni sebanyak 1.850 orang atau sekitar 14,5%, dan tahun 2013 sebanyak 1.486 atau 11,7%.
Sedangkan menurut jenis kelamin, laki-laki menjadi pengidap HIV/AIDS paling banyak di Bali dengan jumlah 7951 orang, dan perempuan dengan jumlah 4.776 orang.
Sedangkan menurut tempat temuan HIV/AIDS di Bali, Kota Denpasar sebagai penyumbang utama kasus HIV/AIDS di Bali yakni dengan prosentase 39,1% atau sebanyak 4.976 orang, diikuti oleh Buleleng dengan prosentase 17,3% dengan jumlah 2.203 orang.
Disusul Badung dengan prosentase 15,7% sebanyak 1.998 orang, Gianyar 7,4 % atau 947 orang, Tabanan 6,1% (774 orang), Jembrana 5,1% (653 orang), Karangasem 3,7% (468 orang), Klungkung 2,2% (277 orang), Bangli 1,9% (236 orang), Luar Bali 1,5% (195 orang).
Khusus Denpasar, menurut Koordinator PL YKP Dewa Suyetna, baru 2.895 ODHA yang melakukan pengobatan.
Itu artinya, masih banyak para ODHA yang belum mendapatkan pengobatan.
“Masyarakat harus tahu dan dapat informasi mengenai HIV/AIDS agar tidak takut atau melakukan diskriminasi, sebaliknya merangkul para ODHA ini untuk melakukan pengobatan. Pemberian obat ini kan gratis, namun memang harus dilakukan seumur hidup untuk menekan virus tersebut,” ujar Dewa Suyetna.
Sementara Ketua Yayasan Citra Usada Indonesia (YCUI) Buleleng, Made Riko Wibawa mengatakan, banyaknya penderita usia produktif dikarenakan pergaulan bebas yang kian marak. Terutama di kalangan remaja.
“Sekarang kita melihat perilaku anak muda sangat mengkhawatirkan sekali, seks bebas bukan hal yang tabu lagi untuk mereka, pasangan berganti-ganti sudah menjadi trend untuk mereka. Habis dipakai ini terus dipakai temannya lagi, dan terus bergilir,” katanya.
Dikatakan, salah-satu upaya untuk menekan HIV/AIDS adalah berhubungan menggunakan alat kontrasepsi.
“Tapi itu juga tidak bisa dijadikan pembenaran mereka (remaja) berhubungan seks bebas menggunakan kondom,” tandasnya.
Karena itu, sekolah-sekolah diminta lebih banyak melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler untuk memberikan kegiatan yang positif kepada para siswanya.
Di antaranya juga mensosialisasikan pendidikan seks. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/grafis-hiv-aids-di-bali_20151202_095615.jpg)