Hari Raya Galungan
Umanis Galungan, Ini Maknanya untuk Diterapkan Berdasarkan Dharma
Dharma shanti atau simakrama ini dilakukan kepada semeton (keluarga), kepada teman, tirta yatra ke pura-pura di luar desa.
Laporan Wartawan Tribun Bali, A.A. Gde Putu Wahyura
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Prof. IGN Sudiana mengatakan, makna hari Umanis Galungan atau hari yang jatuh setelah Hari Raya Galungan yakni hari untuk simakrama (berkunjung dan bertatap muka).
Dharma shanti atau simakrama ini dilakukan kepada semeton (keluarga), kepada teman, tirta yatra ke pura-pura di luar desa.
Dan ada juga yang melancong ke gunung, pantai, dan tempat wisata.
“Banyak cara memaknai Umanis Galungan, intinya di mana tempat yang menyebabkan damai, tenang, bahagia mereka ke sana bersimakrama (berkunjung) tetapi tetap harus berdasarkan dharma,” ujar Sudiana ketika dihubungi via telepon, Denpasar, Bali, Kamis (11/2/2016).
Pada intinya melakukan simakrama kemana saja tidak jadi masalah.
Baik itu menuju ke arah selatan ataupun keutara.
Tetapi ia menyarankan khusus kepada semeton (masyarakat) Bali pada saat umanis galungan ini marilah benar-benar menikmati suasana hari raya yang penuh dengan damai.
“Pada generasi muda yang senang bersimakrama dengan sepeda motor, saya minta jangan kebut-kebutan. Kalau saya sarankan kepada semeton Bali, harus ada perubahan hidup yang berbeda dari sebelum galungan sampai pada hari raya galungan ini,” jelasnya.
Ia juga menyarankan agar kita bersama-sama menghargai suasana Hari Raya Galungan yang kita lewati ini agar tidak cacat karena perilaku kita yang kecil dan menodai hari raya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ketua-phdi-bali_20160211_151701.jpg)