Pasien DBD di Karangasem Dirawat di Lorong Rumah Sakit
I Ketut Seri, satu diantara pasien DBD yang dirawat di lorong Sal Mawar RSUD Karangasem.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - Jika di BRUSD Tabanan pasien DBD sampai dirawat di ruangan IRD, di RSUD Karangasem bahkan pasien DBD terpaksa harus menjalani perawatan hingga di lorong rumah sakit.
Hingga Senin sore kemarin, jumlah pasien DBD yang dirawat di RSUD mencapai 39 orang.
(Dokter Doddy pun Diserang DBD, Ruang Rawat Inap RS Tabanan Penuh)
Setidaknya enam pasien harus dirawat di lorong rumah sakit akibat ruang inap yang sudah penuh.
I Ketut Seri, satu diantara pasien DBD yang dirawat di lorong Sal Mawar RSUD Karangasem.
Saat disambangi ke lorong Sal Mawar, pria paruh baya itu terlihat membuka bajunya dan hanya memakai sarung motif kotak-kotak.
Dengan kondisi terpasang selang infus di bagian tangannya, Seri mengaku panas dengan cuaca yang menyengat saat siang hari.
Didampingi dua orang anaknya, Seri mengaku terpaksa menjalani perawatan di lorong lantaran tak ada kamar kosong.
Pria asal Desa Budikeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem, itu sudah seharian penuh dirawat di lorong RSUD Karangasem.
Pihak keluarga pun mengaku tak bisa berbuat banyak.
“Semua ruangan penuh. Jadi mau gimana lagi? Harus diterima. Untung, sakitnya sudah mulai membaik. Kata dokter, sudah ada perubahan dibanding sebelumnya,” jelas Ketut Seri kepada Tribun Bali, kemarin.
Walaupun kondisinya mulai membaik, Seri tetap berharap bisa mendapat kamar perawatan.
Panasnya matahari di siang hari, serta cuaca dingin saat malam hari, tak kuat dilaluinya.
Maklum, tak hanya gejala DBD yang diderita, pasien juga mengaku menderita batuk berdahak.
Selain Ketut Seri, beberapa pasien yang menderita penyakit dalam, juga dirawat di lorong RSUD Karangasem, Bali.
Sang Ayu Dhamayanti selaku Humas RSUD Karangasem, membenarkan kondisi itu.
Banyaknya pasien DBD, jelas Sang Ayu, penyebab penuhnya ruang rawat inap.
Dari ratusan pasien yang menginap, sebanyak enam orang dirawat di lorong Sal Mawar RSUD Karangasem.
“Sebelum dirawat (di lorong) kita sudah kasih tahu jika ruang inap penuh. Makanya saya tanya, mau atau tidak dirawat di lorong sementara waktu? Kalau mau kita lanjutkan. Kalau tidak, kita rujuk ke RSUD Klungkung. Cuma biaya ambulans harus ditanggung sendiri. Itu nggak bisa pakai JKBM (Jaminan Kesehatan Bali Mandara),” jelas Sang Ayu.
Menurut Sang Ayu, ada beberapa pasien yang dirujuk ke RSUD Klungkung atas kesepakatan bersama.
Selain merujuk pasien ke RSUD Klungkung, sebagian pasien kelas III juga dititipkan di ruang VIP.
Tapi mereka tetap bisa mengunakan JKBM.
“Pasien kelas II, ada yang menempati kelas III. Begitu juga kelas III, ada yang dititipkan di kelas VIP,” jelas wanita berparas cantik itu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pasien-dbd_20160223_092113.jpg)