Pertama dan Terbesar di Indonesia, PLTS Peninggalan Jero Wacik di Kubu Rusak
Sebanyak 19 dari 50 unit inverter milik PLTS yang dibangun dengan dana Rp 26 miliar itu mengalami kerusakan.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Baru berusia tiga tahun, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali sudah tidak terurus.
Sebanyak 19 dari 50 unit inverter milik PLTS yang dibangun dengan dana Rp 26 miliar itu mengalami kerusakan.
Selain itu, PLTS tersebut juga sudah ditinggal pergi satu-satunya pekerja yang mengurusinya, karena selama lebih dua tahun dia tidak digaji.
Sejauh ini, status pembangkit tersebut masih milik pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral).
Pemkab Karangasem belum bersedia menerima hibah aset itu, karena masih rusaknya inverter yang diperkirakan butuh dana hampir Rp 1 miliar untuk memperbaikinya.
Inverter adalah perangkat elektronik untuk mengubah arus dari listrik yang dihasilkan oleh PLTS.
Yang membuat kondisinya makin malang, listrik yang dihasilkan PLTS itu ternyata juga belum tertampung oleh PLN untuk dikoneksikan ke jaringannya.
Sebab, produksi listrik PLTS tersebut cuma 80 KWh dari target 1 MW.
PLTS itu kini seolah impoten.
“Dulu yang jaga keponakan saya, I Wayan Sudiadna. Dia tinggal di Desa Baturinggit, Kecamatan Kubu. Cuma dia berhenti mengurus PLTS karena tidak digaji selama lebih 2 tahun. Padahal, sejak awal beroperasinya PLTS, Sudiadna sudah menjaganya,” tutur I Wayan Putu Arnawa, warga Desa Kubu, kepada Tribun Bali akhir pekan lalu.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi PLTS itu memprihatinkan.
Ruang khusus petugas jaga tampak tak terurus, sehingga berdebu.
Rerumputan di lahan tempat PLTS berdiri juga tak terawat.
Alat pengontrol dan komputer yang dimiliki PLTS itu juga mati.
Cat tembok di ruang pengontrol sudah mengelupas di sana sini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/plts-kubu-2_20160411_093250.jpg)