Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Mengejutkan, Ini Sosok yang Turun Tangan Hingga Abu Sayyaf Bebaskan 10 WNI

Abu Sayyaf adalah sempalan dari kelompok pemberontak separatis MILF, yang juga berbasis di Filipina selatan.

Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari

TRIBUN-BALI.COM, MANILA – Setelah disandera sejak 27 Maret lalu, 10 pelaut Warga Negara Indonesia (WNI) akhirnya dibebaskan oleh kelompok teroris Abu Sayyaf pada Minggu (1/5/2016) siang.

(Media Filipina Sebut Perusahaan Setor Rp 14 Miliar Untuk Bebaskan 10 WNI)

Menurut laporan media Filipina GMA News kemarin, pembebasan yang berlangsung di Kota Jolo, Provinsi Sulu itu terjadi setelah tokoh kharismatik muslim di Filipina selatan, yaitu Nur Misuari, turun tangan.

(Panglima TNI Sebut Pembebasan 10 WNI Berkat Operasi Intelijen)

“Laporan menyebutkan, para sandera Indonesia itu dilepaskan lewat bantuan Ketua MNLF, Nur Misuari,” tulis koresponden GMA News yang berada di Mindanao, Filipina selatan.

(Wanita Ini Langsung Sujud Syukur Suaminya Dibebaskan Abu Sayyaf)

Nur Misuari adalah mantan Gubernur Wilayah Otonomi Muslim Filipina sekaligus pendiri dan ketua Front Pembebasan Nasional Moro (Moro National Liberation Front).

(Polisi-Tentara Takut ke Hutan dan Pantai di Sarang Abu Sayyaf, Pulau nan Cantik tapi Menyeramkan)

Di bawah pimpinan Misuari (kini berusia 77 tahun), di masa lalu MNLF memanggul senjata dengan tujuan untuk membentuk sebuah negara merdeka di wilayah Filipina selatan, yang terpisah dari negara Filipina yang mayoritas Katholik. Namun, setelah pemberian otonomi khusus untuk wilayah Filipina selatan, MNLF akhirnya mengakhiri perjuangan bersenjatanya, dan Nur Misuari jadi pemimpin pertama di wilayah otonomi khusus itu.

Wilayah Otonomi Muslim Filipina mencakup sejumlah provinsi di Filipina selatan, yakni Provinsi Basilan, Lanao del Sur, Maguindanao, Sulu dan Tawi-Tawi.

Wilayah tersebut berpenduduk dominan muslim.

"Laporan pembebasan itu memang benar. Mereka sekarang ada di rumah Gubernur Sulu, Abdusakur Tan Jr. Saat saya melihat para sandera yang dilepas itu tadi, kondisi mereka tampaknya baik-baik saja,” kata Inspektur Junpikar Sitin, Kepala Kepolisian Jolo, seperti dikutip kantor berita AFP pada Minggu (1/5/2016).

“Mereka sekarang sedang dijamu makan siang dengan menu ayam goreng di rumah gubernur,” lanjut Sitin.

Seperti diwartakan sebelumnya, 10 WNI itu diambil oleh anggota Abu Sayyaf di Laut Sulu pada 27 Maret saat mereka mengawaki dua kapal tongkang yang mengangkut 7.000 ton batubara menuju Batangas, Filipina barat.

Dua kapal tongkang itu, bernama Brahma 12 dan Anand 12, berangkat dari Banjarmasin (Kalimantan Selatan) pada 15 Maret.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved