Tangan Tetunggu Sanghyang Deling Sontak Bergetar
Adegan itu mengawali pertunjukan rekonstruksi Ritual Sakral Sanghyang Deling dari Banjar Belong Kangin, Desa Abangsongan, Kintamani, Bangli
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tangan Jero Wacik Ketut Sedana, dan Jero Dasaran Ketut Sejaya mulai bergetar begitu Sekar Rare, Nyanyian-nyanyian Sanghyang, mulai didengungkan.
Tali yang menyambungkan Sanghyang Deling digerakkan ke kanan dan ke kiri.
Nyanyian Sanghyang semakin mengeras dan asap mengepul, seiring dengan gerakan dua patung sakral yang terbuat dari Kayu Cendana, dan Daun Lontar.
Adegan itu mengawali pertunjukan rekonstruksi Ritual Sakral Sanghyang Deling dari Banjar Belong Kangin, Desa Abangsongan, Kintamani, Bangli, di Kalangan Angsoka, Art Centre, Denpasar, Jumat (8/7/2016) siang.
Ritual yang ditampilkan serangkaian PKB ke-38 ini harus dilakukan dengan posisi menghadap gunung, yakni di sebelah utara, sehingga terpaksa membelakangi penonton.
Jero Wacik Ketut Sedana, dan Jero Dasaran Ketut Sejaya disebut sebagai tetunggu dalam ritual tersebut.
Tidak sembarang orang bisa menjadi tetunggu (pemegang dua kayu tombak tempat menggantung Sanghyang Deling) dalam ritual ini.
"Sebenarnya siapa saja bisa menjadi tetunggu. Cuma tergantung sekarang, pernah dibuktikan, pas sudah bergerak, dan tetunggu-nya diganti, malah tidak mau bergerak. Jadi tidak sembarang orang sebenarnya yang cocok, tergantung ketulusan hati," jelas Wayan Sujana, prajuru Banjar Belong, Desa Abangsongan, Kintamani, Bangli, itu kepada awak media di sela-sela ritual berlangsung.
Kali ini ritual tersebut hanya untuk diperkenalkan saja kepada masyarakat.
Karenanya, sejumlah unsur-unsur sakral, dan magis, seperti kerauhan massal tidak terjadi seperti yang biasa dilakoni di Desa Abangsongan, Bangli.
Namun, sebelum ritual itu ditampilkan, serangkaian upacara harus dijalankan oleh Sekaa Sangyang Deling untuk meminta restu.
"Tiga hari sebelum ke sini, ada pengulem, berisi beras, canang, dan uang. Sebelum berangkat, dihaturkan pejati di tempat itu, termasuk di kalangan pentas.
Terakhir adalah upacara segeh agung," terang lelaki yang bekerja sebagai petani dan nelayan di Danau Batur itu.
Adanya ritual turun temurun di Banjar Belong Kangin, saat penduduk Banjar Belong Kangin, banyak yang terserang penyakit, seperti panas dingin disertai muntah darah.
Banyak pula petani yang gagal panen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pkb_20160709_144336.jpg)