Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Patri Wara Kembalikan Gairah Seni Lukis Padangtegal Ubud

Lukisan-lukisan tradisional ini merupakan karya seniman Padangtegal yang dipamerkan hari ini hingga tiga bulan mendatang.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Kander Turnip
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Tjokorda Gde Putra Sukawati, Pemilik Museum Puri Lukisan (kiri) bersama Ketua Komunitas Seniman Padangtegal Ubud, I Gusti Nyoman Kartha,(kanan) berpose pada pembukaan Pameran Lukisan Patri Wara di Ubud, Gianyar, Bali, Minggu (10/7/2016) malam. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Jejeran lukisan terpajang apik di dinding Museum Puri Lukisan, Padangtegal, Ubud, Gianyar, Bali, Minggu (10/7/2016) malam.

Lukisan-lukisan tradisional ini merupakan karya seniman Padangtegal yang dipamerkan hari ini hingga tiga bulan mendatang.

Pemotongan seutas tali bunga gumitir, menjadi penanda dibukanya pameran lukisan bertema ‘Patri Wara’ di Museum Puri Lukisan, Ubud.

Tjokorda Gde Putra Sukawati, pemilik museum ini menceritakan kisah tema pameran ini.

“Patri artinya menggabungkan, sedangkan Wara artinya kebaikan dan kemuliaan. Jadi Patri Wata artinya menyatukan kemuliaan dan kebersamaan dalam seni lukis, agar mampu menumbuhkan budaya melukis sebagai bagian dari pelestarian budaya,” katanya kepada Tribun Bali, Minggu (10/7/2016) malam.

Ia mengapresiasi Komunitas Seniman Padangtegal, yang tetap berusaha memperjuangkan seni lukis di tengah arus modernisasi.

“Para seniman ini adalah pelanjut dan pewaris budaya melukis di Bali. Pada tahun 1930-an laboratorium museum ini adanya di Padangtegal. Lukisan tradisional karya seniman setempat kini kerap dikenal dengan sebutan style Ubud,” kata pria bersafari hitam ini.

Museum Puri Lukisan yang telah berdiri sejak 1956, kata dia, merupakan fasilitator hasil karya seniman Ubud dan seluruh Bali.

Pada pameran Patri Wara ini, menampilkan torehan tradisional inovasi seniman Padang Tegal sebagai upaya dedikasi terhadap karya seni dan pembuktian jati diri.

“Harapan kami, tentunya dengan pameran ini bisa menjadi wadah bagi seniman menuangkan karyanya sehingga tetap lestari dan terus berkreasi,” katanya.

Selain itu, lukisan yang dipajang juga bisa dibeli oleh pengunjung.

“Kami juga ada koleksi lainnya di tiga bangunan, seperti koleksi lukisan dan patung dari tahun 1930 karya maestro Bali. Secara keseluruhan ada 500 lukisan yang secara reguler akan dipamerkan silih berganti,” imbuhnya.

Ketua Komunitas Seniman Padangtegal Ubud, I Gusti Nyoman Kartha, mengatakan, ada total 10 seniman dengan 60 karya yang dipamerkan sejak 10 Juli hingga 10 September 2016.

“Ini sebagai pembuktian kami, di tengah sulitnya perkembangan seni lukis di Padangtegal,” katanya.

Para seniman, kata dia, membutuhkan ruang apresiasi sebagai upaya pengembangan tradisi lukisan Bali.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved