Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Tito Karnavian Selidiki Pengakuan Freddy, Sitinjak Enggan Berkomentar

Lebih jauh Sitinjak mengatakan semua orang tahu mengenai cerita Freddy Budiman tersebut.

Tribunnews.com/HO
Terpidana mati kasus narkoba, Freddy Budiman, bertukar tempat dengan terpidana kasus terorisme, Abu Bakar Baasyir di Lapas Pasir Putih Nusakambangan pada Sabtu (16/4/2016) sekitar pukul 09.00 WIB. 

TRIBUN-BALI.COM - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengaku akan menyelidiki soal kebenaran dari cerita Freddy Budiman.

Selain menyelidiki soal kebenaran, Tito juga sudah mengutus Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar, untuk menemui Haris.

(Heboh, Ini Pengakuan Lengkap Freddy Budiman, Dikawal Jenderal dan Barang Bukti Narkoba Justru Dijual)

"Saya tugaskan Pak Kadiv Humas untuk bertemu Pak Haris Azhar, kalau memang ada data lengkap akan kami follow up," kata Tito.

(Tenang Jalani Detik-detik Terakhir Hidupnya, Ini Pesan Freddy untuk Keluarga)

Tito menambahkan, apabila informasi yang didapat hanya data seperti yang viral itu saja, maka menurut Tito bisa diterjemahkan itu adalah alasan yang bersangkutan untuk menunda eksekusi.

(Mantan Kalapas Beri Jawaban Ini Ketika Ditawari Rp 10 Miliar oleh Freddy Budiman)

"Supaya ramai jadi tunda eksekusi," katanya.

Sementara Direktur Pemberdayaan Alternatif Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN Brigjen (Pol) Fatkhur Rahman mengatakan, BNN akan menelusuri informasi yang menyebut adanya oknum BNN yang bekerja sama dengan salah satu terpidana mati kasus narkotika itu.

"Sementara ini baru informasi, nanti kami cek kebenarannya. Memang kalau seperti ini banyak informasi simpang siur, apalagi Freddy Budiman kelasnya sudah mendunia, sehingga banyak yang berkepentingan," ujar Fatkhur kemarin.

Meski demikian, Fatkhur mengatakan, tidak tertutup kemungkinan adanya keterlibatan aparatur penegak hukum maupun kementerian dan lembaga dalam jalur peredaran narkotika.

Namun, ia mengingatkan komitmen Presiden Joko Widodo bahwa tidak ada kompromi bagi siapa pun oknum pemerintah yang terlibat dalam narkoba.

"Tanpa terasa, kami kalau tidak pintar bisa terayu dan tergiur untuk terlibat. Masalah keterlibatan oknum bisa saja terjadi di mana pun, termasuk BNN dan kepolisian," kata Fatkhur.

Adapun Sitinjak, mantan Kalapas Nusakambangan, enggan mengomentari apa yang disebut Haris terutama soal adanya tekanan dari salah seorang pejabat BNN mengenai kamera pengawas.

"Saya tidak mau berkomentar, saya hanya menjalankan tugas dari atasan saya saat itu untuk melakukan pengawasan ketat," elaknya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved