Wanita yang Sering Keputihan, Bacalah! Bisa Jadi Itu Gejala Kanker Serviks
Gejala-gejala fisik yang dialami pasien kanker serviks seperti keputihan cenderung diabaikan.
Penulis: Sarah Vanessa Bona | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI,COM, DENPASAR - Gejala-gejala fisik yang dialami pasien kanker serviks seperti keputihan cenderung diabaikan.
Ketua POGI, dr Doster Mahayasa menyayangkan hal tersebut karena tidak ada keluhan jika sebatas keputihan.
Ia mengatakan gejala-gejala kanker serviks lebih mudah ditemukan pada stadium lanjut karena leher rahim sudah rapuh.
Pengangkatan rahim tidak harus selalu dilakukan.
Tergantung tingkat bahaya kanker serviks yang diderita.
Baru jika stadium awal, maka dapat dilakukan tindakan konservatif berupa pengangkatan daerah yang dicurigai memiliki sel-sel kanker.
Wanita Melakukan Seks di Usia Muda Rentan Kanker Serviks
Apabila pengangkatan rahim sudah dilakukan, maka pasien tidak akan terkena kanker serviks lagi.
Kehamilan ibu yang menderita kanker serviks tidak akan berdampak pada kualitas hidup bayi ketika dilahirkan.
Masalah yang sering ditemui adalah pada proses kehamilan, di mana ibu baru mengetahui dirinya terkena kanker serviks.
Ia harus menunggu bayi cukup bulan untuk dilahirkan .
Setelah itu baru dapat mengatasi kankernya.
Namun jika kanker tersebut sudah memasuki fase parah, di mana usia bayi masih sangat kecil, maka perlu diprioritaskan keselamatan ibunya.
Lanjut Doster, kanker serviks merupakan satu-satunya kanker yang perjalanannya dapat dideteksi secara medis.
Proses perjalanan virus menjadi kanker itu berlangsung sekitar 15 tahun.
"Ilmunya sudah ada, alatnya sudah tersedia, hanya saja persoalannya sekarang bagaimana kesadaran masyarakat khususnya wanita akan pentingnya upaya deteksi dini untuk mencegah virus tersebut berkembang menjadi kanker," ungkapnya.
Ada beberapa upaya pencegahan primer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-daerah-kewanitaan_20150907_153319.jpg)