Film Kisah Penari Barong, Menarung Jiwani Diputar di Cineplex
Film ini akan ditayangkan untuk masyarakat umum mulai Senin (19/9/2016) di Denpasar Cineplex, selama 2 minggu, hingga 1 Oktober 2016.
Penulis: Cisilia Agustina. S | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Lewat film ini, si sutradara menyisipkan pesan moral, yakni jangan pernah merasa diri mampu, biar orang lain yang menilai kemampuan tersebut.
Pemuda yang kerap melakoni posisi sebagai penari barong bagian belakang ini berambisi bisa memainkan peran sebagai penari bagian depan dalam perlombaan Tari Barong.
Dengan terlalu percaya diri, ia meminta rekan pasangannya dalam menari barong, Wayan Runa untuk bertukar posisi.
Namun justru saat tampil dalam pementasan rutin di sanggar, ia gagal.
Kekecewaan dari teman-teman bermunculan.
Konflik diri dari penari barong ini ditampilkan dalam film pendek bertajuk Menarung Jiwani, sebuah film karya para pemuda Bali yang dirilis secara premiere hari ini, Jumat (16/9/2016) di bioskop Denpasar Cineplex.
“Jadi ini pergolakan diri tokoh Nyoman yang terlalu percaya diri bisa membawakan bagian yang ternyata waktu pentas rutin di sanggar malah kacau balau, dan terjadi perselisihan dengan sesama anggota sanggar. Ada pergolakan di situ, nah kelanjutannya bagaimana nanti Nyoman menghadapi situasi tersebut,” ujar Rai Pendet, Sutradara Menarung Jiwani.
Ia menceritakan ide awal digarapnya film ini, berdasarkan pengalaman dan kedekatan Rai dengan tari Barong.
Barong merupakan mainan pertama yang diperkenalkan sang ayah sewaktu kecil.
Ia mengikuti perkembangan tari barong, ia merasa harus berbuat sesuatu yang ia tampilkan dalam karya filmnya ini.
“Karena mainan pertama yang dikenalkan bapak waktu kecil itu topeng barong. Selain itu dari mengikuti teman yang menarikan barong sesuhunan dan menginspirasi lingkungan untuk bisa mulai berlatih barong lagi. Di sini saya merasa harus berbuat sesuatu, mengajak anak-anak muda Bali untuk tahu seluk beluk kisah seorang penari barong,” papar pria asal Ubud ini.
Lewat film yang juga merupakan karya ke-8 hasil arahannya ini, Rai memiliki makna moral yang disisipkan, yakni jangan pernah merasa diri mampu, biar orang lain yang menilai kemampuan tersebut.
“Eda ngaden awak bisa depang anake ngadanin, artinya jangan merasa diri bisa, biar orang lain yang menilai itu,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan film yang naskahnya ditulis bersama Putu Aditya ini, dibuat dengan tujuan untuk mengumpulkan para film maker Bali.
Di mana memang tidak hanya digarap sendiri, namun Rai melibatkan berbagai film maker di tanah kelahirannya ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/cineplex_20160917_191934.jpg)