Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Inspirasi

Siapa Sangka, Atlet Nengah Widiasih Dulunya Sembunyi-sembunyi Berlatih di Bawah Jemuran

Kiprah Widiasih membuat orangtua dan pihak yayasan bangga sekaligus terharu.

Penulis: Manik Priyo Prabowo | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
flikcr.com
Nengah Widiasih (kiri) bersama saudaranya I Gede Suantaka dan Ketut Rupawan di rumahnya di Desa Sukadana, Kubu, Karangasem. Widiasih menjadi kebanggaan keluarga berkat prestasinya yang mendunia. 

TRIBUN-BALI.COM - Sosok Ni Nengah Widiasih telah mengharumkan nama Bali dan Indonesia di kancah internasional.

Atlet difabel ini meraih medali perunggu pada ajang Paralimpiade 2016 Rio de Janeiro.

Kiprah Widiasih membuat orangtua dan pihak yayasan bangga sekaligus terharu.

I Gede Gambar tampak sumringah saat ditanya perasaannya setelah Widi berhasil meraih perunggu yang berbuah bonus Rp 1 miliar dari pemerintah, Jumat (23/9/2016).

Ayah dari Widi ini tak bisa memungkiri rasa bahagia dan bangga atas prestasi yang ditorehkan anak keduanya.

"Saya sangat bangga dengan prestasinya, sekaligus merasa terharu. Dia menunjukkan semangat dan kerja keras di tengah keterbatasannya," ujar Gambar mengawali wawancaranya dengan Tribun Bali, Jumat (23/9/2016).

Pria yang sehari-hari sebagai petani ini sama sekali tak pernah menduga anaknya bakal menjadi atlet internasional.

Apalagi dengan keterbatasan fisiknya, yang sudah dialami sejak kecil.

"Tiang sempat ragu karena kondisinya seperti itu. Mampu ga dia jadi atlet? Fisiknya terlihat lemah. Namun setelah melihat dia bertanding, baru saya percaya dia bisa," tutur Gambar.

Menurut penuturannya, Widi lahir dengan sehat dan normal pada 12 Desember 1992. Memasuki usia setahun ia pun sudah bisa berjalan dan setelahnya berlari seperti bayi-bayi seusianya.

Masalah mulai muncul saat Widi berusia empat tahun. Saat itu badannya panas, bersamaan dengan kakaknya I Gede Suantaka.

Gambar dan istrinya, Ni Luh Bingin, lalu membawa Widi dan Suantaka berobat ke seorang mantri di Tianyar, Karangasem.

Saat itu, mantri apalagi dokter belum ada di kampung mereka, Banjar Bukit, Desa Sukadana, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali.

"Nengah dan Gede disuntik oleh mantrinya. Sepulang dari mantri, malamnya sekitar jam tiga kedua anak saya kejang-kejang dan langsung lemas. Sejak itulah keduanya lumpuh," kenang Gambar. 

Pasangan Gambar dan Luh Bingin memiliki empat anak.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved