Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Astaga, Korban Dimas Kanjeng Tidak Hanya di Denpasar, Masih Banyak di Bali

Bahkan sebulan sebelum menghembuskan napas terakhir, Haji Mansyur sempat tinggal di Padepokan Dimas Kanjeng selama sekitar 10 hari.

Penulis: I Gusti Agung Bagus Angga Putra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/I Gusti Agung Bagus Angga Putra
Adik kandung korban penipuan Dimas Kanjeng, Anto, menunjukkan kalender yang diterima almarhum kakaknya saat masih aktif di Padepokan Dimas Kanjeng saat ditemui di rumahnya di Jl Ahmad Yani, Denpasar, Minggu (2/10/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Korban Dimas Kanjeng juga ada di Bali.

Salah satunya Haji Mansyur (alm), warga Denpasar, yang sampai menggadaikan surat rumahnya sebagai jaminan untuk deposito kepada Dimas Kanjeng.

(Miris, Demi Kanjeng, Korban Asal Bali Gadaikan Surat Rumah Keluarga dan Kini Meninggal)

Ketika Tribun Bali bertandang ke kediamannya, Minggu (2/10/2016) kemarin, adik kandung serta anak sulung dan istrinya menjelaskan bagaimana awal mula dan aktivitas almarhum saat bergabung dengan Padepokan Dimas Kanjeng.

Menurut penuturan sang adik, Anto (33), almarhum Haji Mansyur telah bergabung dengan Padepokan Dimas Kanjeng semenjak tahun 2008.

Kendati telah bergabung semenjak tahun 2008, dalam ingatan Anto, pada  tahun 2016 ini Haji Mansyur aktif pulang-pergi dari Denpasar ke Probolinggo.

Bahkan sebulan sebelum menghembuskan napas terakhir, Haji Mansyur sempat tinggal di Padepokan Dimas Kanjeng selama sekitar 10 hari.

Sekembalinya dari Probolinggo, tanpa ada pertanda apapun sebelumnya, pada hari pertama menjalankan ibadah puasa tiba-tiba Haji Mansyur sakit perut dan langsung roboh.

Sang istri dan anak yang panik lantas membawa Haji Mansyur ke Rumah Sakit Manuaba.

Namun setibanya di rumah sakit, nyawanya tak dapat tertolong.

Pihak keluarga hingga kini belum mengetahui penyebab pasti penyakit apa yang telah merenggut nyawa Haji Mansyur.

“Penyebab sakitnya juga nggak tahu. Wallahualam. Mungkin udah takdirnya dari sana juga. Nggak ada tanda-tanda atau firasat sebelumnya, Ke RS Manuaba yang jaraknya dekat dari sini aja udah nggak nutut, begitu nyampai Manuaba langsung meninggal,” terangnya.

Setelah kejadian ini, Anto berniat melaporkan hal yang menimpa keluarga besarnya ke polisi.

Namun ia masih menyimpan keraguan untuk melapor lantaran kurangnya alat bukti yang dipegang pihak keluarga.

Menurut Anto, barang bukti yang ada hanya dua buah VCD Dimas Kanjeng dan sebuah kalender padepokan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved