Inspirasi
Saking Cintanya, Wanita Ini Dirikan Komunitas Pecinta Kamen Bali
Menjadi istri dari seorang laki-laki Bali menumbuhkan kecintaan Yoseva Listyati terhadap tradisi dan budaya Bali.
Penulis: Ni Putu Vera Eryantini | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Menjadi istri dari seorang laki-laki Bali menumbuhkan kecintaan Yoseva Listyati terhadap tradisi dan budaya Bali.
"Ketika saya memutuskan menikah, saya tidak hanya menikahi suami dan keluarganya, namun juga menikahi lingkungan dan budayanya," ujarnya kepada Tribun Bali di kediamannya, Jalan Jayagiri No 31 A Denpasar, beberapa waktu lalu.
Sebagai bentuk cintanya terhadap budaya Bali, Direktris CV Surya Tirta Buana ini, bersama rekannya, Bara, sejak 2 tahun lalu membentuk Komunitas Cinta Kamen Bali (KCKB), di mana anggotanya adalah teman-temannya, perempuan-perempuan pecinta kamen Bali.
Perempuan kelahiran, Tuban, 9 Juni 1970 ini mengatakan pentingnya bagi perempuan Bali untuk mencintai kamen Bali sebagai salah satu warisan bangsa di tengah perubahan zaman yang ada.
"Dimanjakan dengan baju-baju branded, dan menariknya fashion-fashion luar yang ditawarkan, jangan sampai perempuan Bali melupakan identitasnya sendiri," tegas Ketua FPPI DPC Kota Denpasar yang akrab disapa Eva ini.
Eva meyakinkan teman-temannya bahwa seorang perempuan Bali akan lebih anggun dengan mengenakan kamen Bali.
Bagi Eva menjadi cantik bisa dilakukan dengan polesan make up, atau yang lebih ekstrem dengan operasi plastik.
Namun jika tidak sesuai dengan busana yang dikenakan, maka akan sia-sia.
"Saya meyakini, seorang perempuan yang cantik belum tentu anggun, namun wanita yang anggun sudah pasti cantik," ungkapnya.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasannya terus mendorong teman-temannya mencintai dan mengenakan kamen Bali, khususnya pada kegiatan tertentu.
Setiap bulan Eva mengajak Komunitas Cinta Kamen Bali (KCKB) mengadakan pertemuan mengenakan kamen Bali.
Pertemuannnya bisa dalam bentuk arisan.
"Ini hanya untuk having fun saja. Poinnya, untuk mengikat komitmen teman-teman terus mengenakan kamen Bali," ujar Eva.
Eva berharap melalui pertemuan ini, setidaknya satu bulan sekali teman-temannya akan mengenakan kamen Bali, dan ini akan semakin menguatkan rasa cinta mereka terhadap kain warisan leluhur tersebut.
"Jika mencintai saja, tanpa dilakukan secara berkala, maka cinta itu akan hilang," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/yoseva_20161023_155744.jpg)