Konflik Agama Tahun 1998 Picu Dewi Lestari Jadi Novelis
Lima belas tahun sudah terlewati dari pertama kali diterbitkan seri pertama dari buku-buku fiksi ilmiah itu pada tahun 2001 silam.
Penulis: Cisilia Agustina. S | Editor: Irma Yudistirani
"Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh", "Akar", "Petir", "Partikel", "Gelombang" dan "Intelegensi Embun Pagi", itulah 6 buku yang menjadi serial Supernova karya Dewi `Dee`Lestari. Padahal, Supernova itu awalnya hanya direncanakan berseri tiga (trilogi).
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Lima belas tahun sudah terlewati dari pertama kali diterbitkan seri pertama dari buku-buku fiksi ilmiah itu pada tahun 2001 silam.
Kegelisahan spiritual, itulah yang mendasari Dee (begitu novelis ini akrab disapa) memulai menulis Supernova, yang kemudian menjadi debutnya sebagai penulis kala itu.
Hingga pada satu titik, ia ingin mengemas tulisan-tulisannya yang masih terserak, menjadi sebuah buku fiksi.
Kegelisahan spiritual Dee yang melahirkan Supernova itu dipicu oleh mencuatnya konflik agama di Indonesia pada tahun 1998, yang menandai dimulainya peralihan atau transisi dari Orde Baru ke Orde Reformasi.
“Tahun itu Indonesia sedang digoyang konflik agama yang tajam dan efeknya sangat merusak, terjadi di beberapa daerah. Masa transisi besar bagi negara kita," ujarnya.
Konflik agama, tutur dia, sangat mengusik pikirannya saat itu.
Menurut Dee, saat bersinggungan dengan agama atau konsep ketuhanan yang berbeda, perilaku manusia bisa menjadi sangat kontradiktif.
Berawal dari persoalan itulah, kata Dee, dia melakukan penelusuran spiritual.
Ia pun mulai mengumpulkan buku-buku tentang agama dan bermacam-macam aliran kepercayaan.
Dari penelusuran itu tumbuh keinginan dalam dirinya untuk berbagi pengetahuan.
"Umur saya saat itu baru 23 tahun. Siapa yang mau dengar orang seumur segitu ngomongin spiritualitas," kata Dee.
Dee menambahkan, dari sana ia kemudian tertarik untuk `mengemas` kegelisahannya itu menjadi sebuah tulisan fiksi.
"Fiksi jadi pilihan karena hobi dari umur 9 tahun. Saya mengkhayalkan buku saya dijual di toko buku," katanya.
Unsur sains pun tak lepas dari Supernova pertama.
Ia ingin membantah anggapan bahwa sains dan spiritualitas tidak bisa berjalan bersama.
Dalam Dialog Sastra bertajuk “15 Tahun Supernova” di Bentara Budaya Bali, Jumat (28/10/2016), Dee menyampaikan justru seharusnya sains dan spiritualitas tidak bertentangan.
Tidak hanya itu, sains yang ditampilkan dalam cerita novelnya mencerminkan ketertarikan Dee pada isu spiritualitas tersebut.
Itu yang kemudian yang terus ditampilkan dan menjadi ciri khas masing-masing dari keenam buku Supernova.
"Ciri khas Supernova adalah berbaurnya ketertarikan saya pada hal tertentu di momen tertentu. Seolah buku tersebut didedikasikan untuk hal dan momen tertentu," ujar Dee.
Dalam dialog sastra “15 Tahun Supernova” yang merupakan bagian dari kegiatan tambahan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2016 itu, Dee juga menceritakan hal-hal teknis tentang bagaimana Supernova pertama dibuat hingga dicetak pertama kali secara pribadi tanpa pengalaman menerbitkan buku sama sekali saat itu.
Membongkar seluruh duit tabungan, ia mencetak Supernova pertama kali sebanyak 5000 eksemplar yang kemudian didapati hasilnya tidak sesuai.
Ia menyebut 5000 cetakan pertama adalah cacat, bahkan masih kurang untuk menuju halaman tamat buku tersebut.
"Saya tidak tahu 5000 itu sebanyak apa, saya punya uang segitu dan bisa untuk sejumlah itu. Dan waktu itu sayangnya tidak ada quality control, hanya menyerahkan file tulisan ke percetakan. Dan ternyata windows yang dipakai di percetakan beda dengan file saya. Itu berpengaruh ke hasil cetak," ujar ibu dua anak ini.
Mendapati dirinya adalah seorang yang perfeksionis, Dee kemudian kembali mengumpulkan uang dan mencetak ulang bukunya sebanyak 2000 eksemplar dengan hasil yang jauh lebih baik dan bisa diterima.
"Jadi saya cetak ulang 2000 eksemplar. Berarti saya punya 7000 buku yang harus dijual. Karena tidak mungkin 5000 buku cetakan awal itu ditelantarkan," tambah Dee.
Padahal saat itu sebuah buku best seller (laris) saja hanya dicetak 3000 eksemplar, dan baru ludes terjual dalam waktu setahun.
Mencari akal bagaimana 5000 buku bisa ikut terjual, Dee membanting harga jual hingga kurang dari 50 persen harga sebenarnya untuk buku yang ia anggap cacat tersebut.
Edisi hemat, begitu ia sebut, ia jual ke kalangan mahasiswa.
Dari bazar ke bazar. Termasuk menjadi bagian dari goodie bag (bingkisan) untuk awak media.
Tak disangka, 7000 eksemplar Supernova pertama berhasil dijual habis hanya dalam waktu 14 hari.
Ketika kemudian serial Supernova menjadi 6 seri, itu pun adalah hal yang berbeda dari rencana awalnya.
Saat itu ia berencana membuat cuma tiga seri (trilogi) Supernova.
Supernova pertama, Supernova kedua yang kini menjadi berjudul Akar, berikutnya Petir, Partikel dan Gelombang, serta seri terakhir (ke-6) adalah Intelegensi Embun Pagi.
"Awalnya trilogi. Kemudian saat mengerjakan Supernova dua, ternyata berkembang. Yang tadinya hanya direncanakan untuk bab-bab saja, kemudian berubah menjadi masing-masing satu buku. Dari trilogi kemudian menjadi hexalogy (enam buku)," ujar Dee.
Spontanitas, menurutnya, memang harus ada dalam perencanaan membuat novel.
Hal tersebut akan memberikan sesuatu yang tak terduga, yang justru melengkapi proses kreatif dalam membuat novel.
"Dalam membuat novel menurut saya, dua hal ini harus ada, perencanaan dan spontanitas. Kalau di puisi mungkin lebih spontan. Tapi di novel dan karya tulis yang panjang, spontanitas dan perencanaan harus sama-sama ada," tuturnya.
Seperti pada kalimat terakhir di Supernova pertama, bukan tamat melainkan The Beginning, Supernova selain mengawali karirnya sebagai penulis, juga menjadikan petualangan tersendiri baginya.
Dee kemudian belajar menjadi penulis sekaligus penerbit dan promotor dari tiap karyanya untuk bisa dijual di pasaran.
Menurutnya, memasarkan buku tidak selesai dengan hanya dengan memajangnya di toko buku.
Tetap harus kreatif agar pembaca tahu ada buku tersebut, bukan hanya dari poster dan publikasi `statis` seadanya.
"Bagaimana cara memasarkannya biar orang tahu. Saat itu saya lihat pemasaran buku hanya dengan poster. Yang saya lakukan lebih dari itu, yakni roadshow dari satu tempat ke tempat lain, mengenalkan buku," ujar Dee.
Kreatifitas itu juga yang kemudian Dee tanamkan dalam berkarya. Ia tidak sependapat jika seniman harus susah dalam berkarya.
Menurutnya, seorang seniman harus kreatif dalam mengolah hal positif maupun negatif yang kemudian menjadi sebuah karya.
"Hal positif dan negatif itu sama-sama menjadi bahan bakar. Mengapa harus susah-susah berkarya? Mengapa tidak berkarya dengan bahagia," ujar Dee menutup dialog malam itu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/dewi-lestari_20161030_122150.jpg)