Jadi Favorit Wisatawan, Dua Banjar Debat Nama Air Terjun Tegenungan
Nama air terjun Srogsrogan atau beken disebut air terjun Tegenungan kini diperdebatkan...
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Nama air terjun Srogsrogan atau beken disebut air terjun Tegenungan kini diperdebatkan.
Terutama setelah kawasan tersebut menjadi destinasi favorit wisatawan.
Jumlah pengunjung ke air terjun ini mencapai rata-rata 200 orang per hari.
Warga Banjar Blangsinga, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar menginginkan penyebutan air terjun Tegenungan dikembalikan ke nama aslinya yaitu air terjun Srogsogan.
Hal tersebut agar kedua belah pihak, yakni Banjar Blangsinga dan Banjar Tegenungan, Desa Saba, Sukawati sama-sama menikmati dampak kunjungan wisatawan.

Objek wisata Air Terjun Tegenungan, Gianyar ramai dikunjungi wisatawan, Kamis (7/7/2016).
Data yang dihimpun Tribun Bali, Sabtu (19/11/2016), secara geografis air terjun Srogsogran merupakan perbatasan antara Banjar Blangsinga dan Banjar Tegenungan.
Dari segi pemandangan, eksotisme air terjun tersebut begitu tampak ketika pengunjung berada di Banjar Tegenungan.
Karena hal tersebut pula, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Udayana (Unud) pada 1988-1989 lalu mempromosikan air terjun ini sebagai air terjun Tegenungan.
Masyarakat Banjar Tegenungan menjadikan kawasan ini sebagai sumber pendapatan.
Baik dengan cara menjual souvenir maupun menjadi pramuwisata.
Pihak banjar menghasilkan manfaat signifikan dari kunjungan wisatawan.
Pemasukan dana tersebut, kini masyarakat Tegenungan tidak keluar biaya ketika menggelar ritual keagamaan di banjar.
Tokoh masyarakat Banjar Blangsinga, Nyoman Artawa Putra mengatakan, secara geografis letak air tejun Srogsogan berada di dua wilayah.
Yakni, Banjar Blangsingan dan Tegenungan. Karena itu, pihaknya ingin agar nama destinasi wisata ini dikembalikan ke nama aslinya, yaitu Srogsogan.
Terlebih lagi, warga Blangsinga telah melakukan perbaikan akses dan menyediakan tempat parkir wisatawan yang ingin melihat air terjun Srogsogan dari Banjar Blangsinga.
“Kami berharap agar kedua belah pihak bisa duduk bersama untuk membahas hal ini, agar nanti tidak menimbulkan konflik. Sebab kalau berkonflik, nanti destinasinya malah bermasalah, dan wisatawan jadi malas datang. Kan yang rugi kami bersama,” ujar pria yang juga anggota DPRD Gianyar itu.
Artawa mengungkapkan, bila wisatawan ingin menikmati air terjun Srogsogan dari Banjar Blangsinga, ada berbagai fasilitas pariwisata penunjang yang disediakan.
Seperti belanja ke Pasar Yadnya, wisata spiritual di Pura Musen, menengok arsitektur zaman kerajaan di Pura Ageng Blahbatuh serta monkey river tracking.
Pencetus Mahasiswa KKN Unud
Kelian Dinas Banjar Tegenungan, Gusti Made Raka sendiri tidak keberatan dengan keinginan warga Banjar Blangsinga.
Namun hal mesti dipertimbangkan, hal ini akan membuat pengunjung kebingungan.
Sebab sejak tahun 1988 lalu, nama air terjun ini telah dikenal dengan nama air terjun Tegenungan.
Selain itu, pemberian nama tersebut bukanlah warga Banjar Tegenungan.
“Nama air terjun Tegenungan ini dicetuskan mahasiswa KKN Unud. Saat mereka KKN di sini, sekitar tahun 1988 hingga 1989 mereka mempromosikan air terjun ini dengan nama air terjun Tegenungan, karena menurut mereka air terjun itu lebih indah kalau dilihat dari banjar kami,” ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/air-terjun-tegenungan_20161120_141035.jpg)