Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dari Jual Video Gituan ke Anak SMP Sampai Hanya Terima Tamu Bule, Begini Kehidupan PSK Waria

Memang, tidak semua waria terhubung dengan profesi ini, namun kisah waria sejak berpuluh-puluh tahun, lekat dengan profesi pekerja seks komersial

Editor: Eviera Paramita Sandi
Tambo - WordPress.com

Kebetulan, di salah satu kategorinya memang ada kategori ts alias transsexual escort.

Dalam situs direktori ini, waria-waria kelas atas yang sudah mengalami proses ketok mejik beroperasi menjajakan diri.

Memajang foto-foto polos mereka, dan menyebarkan kontak WA untuk bisa langsung dihubungi.

Jangan harap melihat waria ala film Betty Bencong Slebor-nya Benyamin S. di situs ini.

Semua waria sudah tahu bagaimana menjual diri. Rata-rata mirip dan malah lebih cantik dari perempuan asli.

“Maaf, nggak terima tamu lokal. Saya cuma terima tamu impor,” ucap W, salah satu waria asal Kemang, saat coba dihubungi lewat whatssap.

waria pukul wisatawan
Ditolak, Waria ini kemudian memukul wisatawan Irlandia di Thailand

“Mau bertamu, boleh saja. Saya tinggal di K***B***. Rate saya 2 juta rupiah,” jawab K, singkat saat penulis mencoba menghubunginya lewat WA.

Waria-waria ini  sepertinya memang mengincar pasar A untuk dijadikan mangsa.

Rata-rata memang sudah men-state bahwa mereka hanya terima tamu bule.

Namun, masih ada beberapa psk waria yang mau melakukan negosiasi soal tarif layanannya.

KL salah satu waria yang tinggal di Bekasi Barat misalnya.

Dari segi tampilan, KL tidak kalah dengan sosok lain yang mejeng di situs direktori tersebut.

Bahkan, tampilannya tidak kalah dari kontestan Miss Waria.

Namun, dia malah lebih senang menerima tamu lokal.

“Tamu lokal lebih ramah dan biasanya sering baliknya,” ungkap KL.

Dengan tarif yang bisa dinego hingga 1/3 tarif normal, KL bahkan bisa mendapatkan tamu mahasiswa dan pelajar.

Tentu saja dari kelas yang lebih tinggi dari yang didapatkan para psk twitter.

“Yang paling banyak datang mahasiswa dan pelajar SMA. Rata-rata tidak punya pacar dan mau belajar hal baru. Banyakan malah ngobrolnya dari aksinya. Hehehe…. Tapi itu kalau pertama datang,” ucap KL, sambil menarik rokoknya.

Tidak jauh beda dengan KL, ada La yang tinggal di bilangan Tanjung Duren.

Waria ini mengaku kerap mendapat tamu mahasiswa.

Kosannya yang dekat dengan tempat bermain game online membuat mahasiswa itu nyaman mendatanginya.

Dan kagetnya, La ternyata mengaku nyaman dengan mahasiswa.

“Kalau bisa, saya lebih suka dengan yang lebih muda. Mereka biasanya malah memberi tip besar. Bahkan ada yang minta jadi pacar. Tapi, saya bilang kamu masih kecil. Jangan pikir yang aneh-aneh!” ucap waria asal Sumatera itu, santai, saat diwawancarai.

Ketatnya pengawasan operasi waria di jalan-jalan tidak membuat mereka kehilangan tempat.

Banyaknya outlet yang tersebar di media online, jelas menjadi problem sosial lebih berbahaya.

Apalagi, sesuai pengakuan para psk waria, beberapa tamunya adalah warga di bawah umur.

Sebuah tantangan besar buat institusi pendidikan, agama, instansi berwenang dan masyarakat secara umum.

Kebanyakan siswa SMA dan mahasiswa yang datang berniat mencoba. Ingin tahu hal baru, yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

Untuk itu, peran orangtua menetapkan nilai-nilai moral pada anak sangat diperlukan.

Kontrol orang tua terhadap konten yang diakses anak pun perlu diperhatikan.

Dengan akses yang serbaterbuka, mungkin orangtua akan kesulitan menyensor semua konten.

Maka, pendidikan formal dan informal harus mampu membentuk karakter generasi yang kuat secara moral.

Atau, Anda punya solusi dan pendapat yang lain? Silakan bagikan komentar Anda demi kebaikan bersama. (INTISARI/Junior Respati)

Sumber: TribunStyle.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved