Mahasiswa dan Sineas Bali Berlomba Bikin Film Berhadiah Jalan-jalan ke Australia
Untuk mempromosikan Kompetisi Film Pendek FSAI di Bali, Konsul-Jenderal Australia, Dr Helena Studdert membuka workshop di Campuhan College.
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Mahasiswa film dan para sineas independen berkesempatan mengasah keterampilan mereka dan berkompetisi untuk memenangkan perjalanan ke Australia dengan berpartisipasi dalam Kompetisi Film Pendek Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI).
Untuk mempromosikan Kompetisi Film Pendek FSAI di Bali, Konsul-Jenderal Australia, Dr Helena Studdert membuka workshop di Campuhan College yang bertema: 30 Hours Workshop: One-Take Film.
Workshop yang disponsori oleh Konsulat-Jenderal Australia dan didukung oleh Minikino ini bertujuan memperkenalkan proses pembuatan film dan editing kepada dua puluh delapan pelajar dan lima pengajar dari Campuhan College, Ubud, Gianyar, Bali.
Target yang ingin dicapai oleh para pelajar dari workshop adalah untuk menghasilkan film pendek yang dapat diikutsertakan dalam Kompetisi Film Pendek FSAI.
Kompetisi Film Pendek FSAI menerima berbagai film, dengan durasi kurang dari 15 menit, bisa dalam aneka genre: fiksi, non-fiksi (dokumenter), animasi, horor, komedi atau drama, tetapi harus orisinil, dan mengesankan.
Tujuh finalis akan dipilih oleh satu panel yang terdiri dari pakar-pakar dan kemudian akan ditayangkan dalam acara tahunan Kedutaan Besar Australia, Festival Sinema Australia Indonesia, pada bulan Januari 2017 (FSAI17).
Pemenang, akan diumumkan pada penutupan FSAI17, akan menerima Hadiah Utama yang berupa perjalanan ke Australia dan kesempatan menghadiri Melbourne International Film Festival. Detail cara mengikuti kompetisi dapat diunduh di http://indonesia.embassy.gov.au/jakt/events.html
Dr Studdert mengatakan, film adalah media yang kuat untuk menyampaikan cerita-cerita yang unik dan menarik.
“Kami berharap kompetisi dan workshop ini bisa menemukan bakat baru di Bali dalam pembuatan film dan membantu kaum muda memperoleh pengalaman, menggunakan dan mengembangkan film sebagai salah satu bentuk komunikasi,” ujarnya.
Temuan dari studi yang lakukan oleh Screen Australia melaporkan bahwa industri perfilman memberi kontribusi lebih dari 3 miliar dolar ke ekonomi Australia dan menyediakan lebih dari 25 ribu pekerjaan penuh waktu.
Sekitar 230 ribu wisatawan internasional mengunjungi Australia setiap tahun karena hal yang mereka lihat di layar tentang Australia dan ini memberikan kontribusi hingga 725 juta dolar bagi perekonomian.
"Belajar dari Australia, ada nilai ekonomi, pemirsa dan budaya yang sangat besar dalam sektor perfilman yang juga bisa dikembangkan di Indonesia," kata Dr Studdert. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/konjen-australia-bali-dan-para-sineas-bali_20161202_150614.jpg)