Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Nahas, Gempa Tewaskan Nas Sehari Sebelum Nikah, 23 Pengantar Pengantin Tertimbun

Gempa itu juga membuat anggota rombongan pengantar pengantin laki-laki (linto baro) asal Padang, Sumatera Barat, menjadi korban.

Facebook

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi. Diperkirakan masih ada korban yang terjebak di reruntuhan bangunan.

 Pakar kegempaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, mengatakan, gempa Aceh kemarin sangat tidak terduga.

“Sampai sekarang kita masih mencari sesar apa yang menjadi penyebabnya. Yang kami pahami bahwa sesudah gempa besar Aceh pada 26 Desember 2004, pelepasan energi dari gempa 2004 itu menimbulkan tegangan di daratan Aceh, sehingga terjadi gempa‑gempa kecil di daratan tersebut, termasuk gempa tadi Subuh," jelasnya.

Gempa itu juga membuat anggota rombongan pengantar pengantin laki-laki (linto baro) asal Padang, Sumatera Barat, menjadi korban. Bangunan ruko tempat rombongan itu menginap roboh akibat digoyang gempa.

Rombongan linto baro berjumlah 23 orang itu menginap di sebuah ruko yang berjualan jam di pasar Kota Meureudu, Pidie Jaya.

Hingga tadi malam, proses evakuasi korban yang tertimbun ‎reruntuhan ruko dan material toko masih berlangsung. Pencarian sempat terhambat karena guyuran hujan deras pada sore hari‎. Belum diketahui pasti jumlah korban tewas atau yang selamat.

Pencarian dilanjutkan setelah hujan mereda, dengan melibatkan empat unit alat berat berupa backhoe.

"Yang saya ketahui jumlah orang yang menginap di toko tersebut 23 orang, termasuk linto baro. Saya tidak mengetahui nama linto baro. Tapi orangtua linto baro asal Padang, dan sudah lama tinggal di Kota Meureudu," kata Camat Meureudu, Mahdi, Rabu (7/12/2016) siang.

Napi Sempat Panik

Di Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Tringgadeng, Kabupaten Pidie Jaya, seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan menjadi salah-satu dari 15 warga desa yang tewas akibat gempa itu.

"Almarhumah sedang hamil tujuh bulan," kata Sekretaris Desa Kuta Pangwa, Pijay Zulkifli dengan mata berkaca, sembari menunjuk jenazah korban yang terbujur kaku di antara belasan jenazah korban lainnya.

"Di desa ini saja korban yang meninggal keseluruhan 15 orang, satu di antaranya ibu hamil. Ada juga korban anak-anak, dan orang tua," kata Pijay lagi.

"Saya juga korban, kaki saya terkilir ketika menghindari runtuhan bagunan," ungkapnya sembari menunjukkan kakinya yang membengkak.

Para korban gempa yang meninggal rencananya dimakamkan dalam satu liang. Saat ini, warga setempat masih memandikan jenazah yang sudah evakuasi.

"Bantuan sudah datang dan kita sudah membuka dapur umum. Warga masih enggan kembali ke rumah dan takut terhadap gempa susulan," ujar Pijay.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved