Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ni Made Yuni Astari Menari Tanpa Suara, Gadis Tuna Rungu Ini Tak Pernah Putus Asa

Remaja penyandang tuna rungu asal Banjar Sembung, Desa Meliling, Kecamatan Kerambitan itu terlihat lincah dan menghibur menarikan tarian joged

Penulis: I Made Argawa | Editor: Aloisius H Manggol
Tribun Bali/I Made Argawa
Widyantra sedang mengarahkan anak didikna saat menari di acara hari disabilitas internasional di PSBN Mahatmiya Bali. Penari yang tampil dalam acara tersebut adalah para penyandang tuna rungu. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN– Menggerak-gerakkan jemari dan saling berhadapan dengan rekannya, Ni Made Yuni Astari melakukan komunikasi.

Siswa kelas XI di SLB B Tabanan itu menjadi pengisi acara hari disabilitas internasional yang digelar oleh Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Mahatmiya, Tabanan.

Remaja penyandang tuna rungu asal Banjar Sembung, Desa Meliling, Kecamatan Kerambitan itu terlihat lincah dan menghibur menarikan tarian joged.

Meskipun menjadi penyandang tuna rungu, Yuni sapaan akrabnya sudah menari hingga ke Jakarta, tepatnya di Hotel Borobudur saat diundang dalam acara Kementerian Sosial beberapa waktu lalu.

Dalam menari Yuni diarahkan oleh guru tarinya I Made Widyantra (32).

Setiap pentas Pemuda asal Banjar Dangin Sema, Desa Tumbak Bayuh Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung akan selalu ada di depan Yuni dan mengarahkan melalui instruksi gerak tangan.

“Saya senang menari, dan belajar sejak SD,” kata Yuni seusai menari ditemani oleh Widyantra, (15/12/2016).

Hingga saat ini, Yuni sudah bisa menarikan empat tarian yang dipelajarinya dari guru tarinya sejak SD.

Tarian yang bisa ditarikannya adalah Tari Sekar Jagad, Tari Pendet, Tari Puspan Jali dan menari joged.

Selain itu, Yuni juga aktif di sekolah luar biasa Mandung, Kerambitan mengajarkan tarian pada adik kelasnya hingga ke jenjang SD.

“Saya sering dibantu oleh Yuni untuk mengajar di sekolah luar biasa,” kata Widyantra.

Pria yang berstatus PNS itu menyebutkan, lebih sulit mengajar menari pada tuna netra dibandingkan kepada tuna rungu.

Hal itu karena tuna rungu masih bisa mengikuti gerak tari dengan melihat. Sementara mengajarkan tari pada tuna netra harus dituntun dan diarahkan gerak tubuhnya.

“Mereka yang tuna netra lebih cepat bosannya, pendekatan kepada mereka juga harus lebih sabar. Selain itu harus cinta pekerjaan ini, jika tidak akan bosan sendiri,” terangnya yang tamat pada Jurusan Karawitan ISI Denpasar pada 2007.

Dalam setiap pentas, anak didiknya yang tuna rungu pasti akan selalu ditemani dan diarahkan, sementara tuna netra akan menyesuaikan dengan irama gambelan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved