Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Tangannya Terus Menganyam, Nasib Perajin Capil Bertahan dengan Penghasilan Minim

Melalui tangan terampir mereka, setiap helai janur kering tersebut mampu mereka anyam menjadi kerajinan capil (topi) yang biasanya digunakan petani.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Nyoman Remi (45) ketika membuat capil (topi) petani di Dusun Pemenang, Desa Nyalian, Banjarangkan, Minggu (18/12/2016) 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Suara kokokan  ayam jantan  terdengar lantang di Dusun Pemenang, Desa Nyalian, Banjarangkan, Klungkung, Bali, Minggu (18/12/2016).  

Waktu ketika itu masih menunjukan pukul 06.30 Wita, namun  Nengah Suda (50) dan isrinya, Ni Nyoman Remi (45) sudah sibuk memilih janur kering yang akan mereka gunakan untuk membuat capil (topi) petani.

Nengah Suda (50) dan Ni Nyoman Remi (45) tampak dengan teliti memilah helai demi helai janur kering.

Melalui tangan terampir mereka, setiap helai janur kering tersebut mampu mereka anyam  menjadi kerajinan capil (topi) yang biasanya digunakan petani.

Pasangan suami istri tersebut merupakan  satu dari sedikit perajin capil (topi) petani yang masih bertahan di Dusun Pemenang, Desa Nyalian, Banjarangkan, Klungkung.

Meskipun penghasilan mereka tidak seberapa, pasangan suami istri tersebut tidak pernah berpikir untuk meninggalkan pekerjaan mereka sebagai peraji capil.

Menurut mereka, kerajinan capil tersebut merupakan warisan leluhur yang harus tetap dipertahankan.

“Kerajinan capil ini sudah diwariskan secara turun-menurun oleh leluhur kami di Dusun Pemenang. Beberapa tahun lalu, hampir setiap KK di Dusun Pemennag membuat capil petani. Namun, saat ini sudah semakin berkurang,” jelas Nengah Suda, sembari berusaha menganyam janur menjadi sebuah capil.

Ia menjelaskan, ada berbagai penyebab para perajin capil di Dusun Pemenang mulai meninggalkan pekerjaan sebagai perajin capil.

Selain karena masalah penghasilan yang tidak seberapa, juga karena bahan baku yang semakin sulit didapat.

Beberapa warga Desa Pemenang pun mulai banyak beralih untuk bekerja ke sektor lainnya, dari pada memilih bertahan menjadi perajin capil.

“Membuat capil seperti ini prosesnya lama, tetapi penghasilan tidak seberapa. Butuh kesabaran,” jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved