Dharma Wacana
Ekstrimnya Tradisi Perang Api, Ternyata Ini Maknanya!
Sesungguhnya tradisi perang api di Bali bukan untuk menyakiti teman yang diajak berperang.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bali merupakan rumah dari tradisi-tradisi kuno.
Lestarinya berbagai tradisi, bahkan yang ekstrim sekali pun, hal ini disebabkan balutan nilai kerohanian di dalamnya.
Satu di antara tradisi ekstrim tersebut adalah perang api.
Mulai dari penggunaan simbol-simbol hingga waktu dilaksanakannya perang api, tidak dibuat asal-asalan oleh para leluhur kita.
Namun ada nilai-nilai kehidupan yang sangat mendalam.
Berdasarkan ajaran agama Hindu, api memiliki dua pemahaman.
Yakni api nafsu dan api yang bersifat pengetahuan atau jnana.
Sesungguhnya tradisi perang api di Bali bukan untuk menyakiti teman yang diajak berperang.
Melainkan untuk melemparkan atau memusnahkan nafsu, dan digantikan oleh api jnana untuk menuntun kehidupan kita pada arah yang lebih baik.
Meskipun tradisi ini tidak tercantum dalam Weda. Namun perang api ini dibenarkan oleh Weda.
Sebab, tradisi pada dasarnya ada tiga.
Yakni, tradisi yang bersumber dari Weda, tradisi yang tidak lahir dari weda tetapi menguatkan ajaran weda, dan tradisi yang tidak lahir dari weda tetapi sekaligus merusak nilai weda.
Maka dari itu, tradisi perang api dapat dikatakan sebagai tradisi yang tidak bersumber dari Weda, tetapi menguatkan ajaran weda.
Hal itu terlihat dari simbol-simbol yang digunakan dalam perang api.
Ketika tradisi itu digelar, bahan untuk menyulut api tidak terlepas dari pohon kelapa.
Baik itu sabut kelapa, pelepah maupun daunnya.
Dalam Lingga Pranala yang terdapat dalam kisah Kurawa Srama dan lontar Siwa Gama, pohon kelapa merupakan pohon yang tumbuh dari kepala Bhatara Brahma.
Sementara, kalau berbicara mengenai api, dalam purana atau tepatnya pada kisah Adi Parwa, disebutkan bahwa Bhatara Brahma merupakan dewanya api.
Maka dengan demikian, dapat diartikan bahwa tradisi tersebut memasukkan unsur-unsur Brahma dalam mengusir api nafsu dalam diri manusia.
Kita ketahui bersama, tradisi perang api biasanya dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi atau ketika sasih kesanga.
Berdasarkan perhitungan kosmologi Hindu, saat sasih kesanga, matahari berada di selatan dan bulan tertutup secara penuh, sehingga dunia menjadi gelap.
Dan, masa kegelapan merupakan masa kebangkitan hawa nafsu.
Jadi, perang api yang dilakukan pada sasih kesanga, memiliki makna memerangi api nafsu, dan membangkitkan api jnana. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/perang-api_20160310_225449.jpg)