FOTO: Unik, Umat Budha dan Hindu Sembahyang Bersama Saat Imlek di Denpasar
Satu lagi bentuk keberagaman tersaji di Bali. Mereka memakai pakaian adat sekaligus membawa banten seperti halnya umat Hindu Bali.
Penulis: I Nyoman Mahayasa | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Satu lagi bentuk keberagaman tersaji di Bali.
Warga Tionghoa dan Bali bersama-sama merayakan Tahun Baru Imlek 2568 di Kelenteng Griya Kongco Dwipayana, Tanah Kilap, Denpasar, Bali, Sabtu (28/1/2017) pagi.
Mereka memakai pakaian adat sekaligus membawa banten seperti halnya umat Hindu Bali.
Semerbak aroma wewangian dupa sangat terasa di Kelenteng Griya Kongco Dwipayana.
Ada ratusan mungkin ribuan dupa berwarna merah dibakar untuk mengiringi persembahyangan warga keturunan Tionghoa maupun warga Bali saat Imlek.
Menariknya, keberagaman sangat terasa di kelenteng ini.
Warga Tionghoa datang sembahyang memakai pakaian adat.
Selain memakai baju adat, mereka juga membawa banten sebagai persembahyangan kepada leluhur dan Tuhan.
Persembahyangan juga dilakukan dengan memakai canang, seperti halnya umat Hindu.
Ida Bagus Made Adnyana, Atu Mangku Griya Kongco Dwipayana menyampaikan, kelentengnya memang sangat mengedepankan keberagaman.
Semua golongan, baik warga Bali maupun keturunan Tionghoa datang ke kelenteng untuk melakukan persembahyangan.
"Umat Hindu dan Buddha, dia tidak merasakan suatu perbedaan. Semua datang sembahyang ke sini," jelas Atu Mangku, kemarin.
Kelenteng Griya Kongco Dwipayana yang terletak di ujung selatan perbatasan wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, tepat di bibir bendungan Tanah Kilap, memang menjadi cikal bakal perpaduan tempat persembahyangan bagi Khonghucu, Hindu, dan Budha.
Tak heran, saat perayaan Imlek di Kongco ini juga dipadati umat Hindu yang sembahyang begitu juga umat Budha.
Itu karena di kongco ini juga ada stupa dan sang Budha sebagai tempat pemujaan bagi umat Budha.
Termasuk juga dibangun sebuah padmasana yang jadi pemujaan bagi umat Hindu.
Kongco Dwipayana yang dibangun sejak 1987 sampai 1999 ini merupakan perwujudan dari simbol Siwa dan Budhha.
Itu sebabnya umat Buddha dan Hindu Bali bisa duduk berdampingan secara khidmat menggelar persembahyangan.
Ida Bagus Made Adnyana menjelaskan, di kongco ini, hampir setiap hari kedua umat menggelar persembahyangan.
"Jika umat Hindu, dia akan bersembahyang di tempat umat Hindu dulu, baru ke sini (ke tempat persembahyangan umat Budhha). Dan, begitu juga sebaliknya," jelasnya.
Keberadaan Kelenteng Griya Kongco Dwipayana ini pun setidaknya bisa jadi jawaban atas munculnya fenomena dan isu intoleran yang terjadi saat ini.
Atu Mangku Griya Kongco Dwipayana pun berpesan agar umat beragama tak mudah terprovokasi dengan isu-isu SARA. (nyoman mahayasa/rizal fanany)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/imlek_20170129_115833.jpg)