Arti Celuluk dan Reog Yang Ditampilkan Dalam Aksi Tolak FPI di Bali
Ia meminta FPI berhati-hati bertingkah, karena apa yang dia lakukan akan berimbas kepada umat Islam di daerah lain.
Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Ribuan warga dari berbegai elemen keagamaan di Bali serta ormas kepemudaan memenuhi Lapangan Renon Denpasar, Bali.
Mereka menolak Front Pembela Islam (FPI) yang dinilai memecah kebhinekaan.
Celuluk, barongsai hingga reog Ponorogo meramaikan aksi tolak FPI ini.
Dalam aksi budaya bela NKRI dan kebudayaan oleh Komponen Rakyat Bali (KRB) diramaikan atraksi barongsai, reog Ponorogo, dan juga celuluk yang sukses menghibur ribuan peserta aksi.
Pemeran Celuluk, Made Wardana dari Pemuda Bali Bersatu (PBB) Selemadeg Barat, Tabanan mengatakan, celuluk ini sebagai simbol aksi perlawanan dengan sopan dan santun.
“Celuluk ini biar kita tidak terbawa isu menyesatkan dan kita tidak emosional. Jadi seni dipakai untuk ini. Kita di Bali punya adat yang sopan dan santun. Walaupun kita tidak mentolerir radikalisme,” jelas lulusan ISI Denpasar ini.
Hal senada dikatakan Adi dari Patriot Garuda Nusantara, sebagai pembina dari remaja-remaja nusantara yang memainkan barongsai.
Ia mengatakan bahwa barongsai ini secara niskala untuk menetralisir hal-hal tidak baik menjadi baik.
“Kita perlihatkan Indonesia dengan segala akulturasi budaya, munculnya Indonesia yang damai, tetapi kita satu, kita satu keluarga semua bersaudara,” jelasnya.
Gus Nuril Arifin Husein, pengasuh pondok pesantren Sopotunggal, Semarang dalam aksi ini bersuara lantang terkait penolakannya dengan keberadaan FPI di Pulau Dewata.
“Sampaikan ke presiden, kami menolak FPI. Saya adalah orang yang pertama kali menandatangani dengan darah untuk dibubarkan FPI. Kami berbeda dalam satu lapangan yang sama menyatakan sebagai saudara tanpa melihat ras, tanpa berasal dari ormas apa kami semua, kami adalah saudara. Setuju bubarkan FPI? Setuju,” saut dari ribuan peserta aksi di Renon Denpasar, Senin (6/2/2017).
Sekretaris GP Ansor Kuta, As’ad menegaskan Pemuda Ansor selalu bersinergi dengan Pecalang dalam keamanan, dan tidak pernah sama sekali ada pecalang yang melakukan tindakan yang dituduhkan oleh Jubir Munarman.
“Karena isu agama sangat sensitif, walaupun kita sebagai muslim tidak melakukan apa yang dilakukan FPI, sedikit banyak kita mendapatkan imbasnya. Kami tegaskan GP Ansor, berharap saudara kami di Hindu, Kristen, apabila FPI bermasalah jangan dikaitkan dengan semua umat Islam. Kita bukan umat FPI, tetapi umat Islam,” ujarnya.
Ia meminta FPI berhati-hati bertingkah, karena apa yang dia lakukan akan berimbas kepada umat Islam di daerah lain.
Pinisepuh Sandhi Murti, Gusti Ngurah Harta menyampaikan pernyataan sikap KRB, terakit dengan ormas intoleran FPI yang menyebarkan kebencian dan fitnah dan mengganggu kerukunan umat di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/fpi_20170207_104636.jpg)