Berita Banyuwangi
Banyuwangi Hidupkan Seni Angklung Caruk yang 20 Tahun Mati Suri
Festival yang digelar di Gesibu Blambangan ini merupakan kolaborasi antara pemkab dengan para budayawan Banyuwangi.
TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI - Angklung caruk, salah satu kesenian dari Banyuwangi yang nyaris punah.
Sekitar 20 tahun, angklung caruk tak pernah terlihat. Kini Pemkab Banyuwangi berupaya melestarikan kembali.
Caranya, menggelar Festival Angklung Caruk yang melibatkan pelajar dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sabtu (25/10/2017).
Festival yang digelar di Gesibu Blambangan ini merupakan kolaborasi antara pemkab dengan para budayawan Banyuwangi.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, seni dan budaya merupakan bagian dari kekayaan potensi Banyuwangi yang terus dikembangkan.
Agar tidak hilang, dibutuhkan kaderisasi dengan cara anak-anak muda Banyuwangi dikenalkan pada kesenian khas daerahnya.
“Seni budaya memang menjadi salah satu daya tarik pariwisata Banyuwangi, di samping kekayaan alam, sport tourism, kuliner dan inovasi pelayanan publiknya. Karena itulah, angklung caruk ini kami festivalkan. Supaya generasi muda kita lebih tertarik dan greget untuk mempelajarinya,” kata Anas.
Angklung merupakan alat musik yang terbuat dari bambu dengan ukuran yang berbeda untuk menghasilkan tangga nada yang berbeda pula. Sedangkan caruk, berasal dari kata asli Banyuwangi yang berarti "pertemuan". Dua kelompok bertemu dan bersaing untuk bermain angklung bersama yang disebut angklung caruk.
Menurut Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda, angklung caruk Banyuwangi memiliki warna yang berbeda dibandingkan dengan angklung dari daerah lainnya.
Dalam desainnya, digunakan rancakan yang menyatu dengan tempat duduk penabuh angklung. Terdapat motif ular naga di sisi kanan kiri angklung yang memperlihatkan keindahan dan kegagahannya.
Sedangkan permainannya, angklung caruk ini, dimainkan oleh 12 sampai 14 orang. Mereka terbagi dalam dua grup yang berbeda yang beradu ketangkasan dalam memainkan alat musik tradisional Banyuwangi.
Permainan angklung caruk ini, imbuh Bramuda, ditambahkan beberapa alat musik diantaranya kluncing, saron, peking, kendang, kempul, dan slenthem. Beberapa alat musik tambahan tersebut akan berpadu dengan angklung caruk dalam kesatuan nada yang khas.
Pemegang alat musik slenthem adalah yang menjadi komandan dari grup tersebut. Nantinya akan ada satu penari atau badutan dalam suatu grup yang menjadikan situasi memanas.
Pada sesi berikutnya ada istilah Adol Gendhing atau Jual Lagu, yaitu saling tebak lagu khas Banyuwangi. Lewat ketukan lagu yang dibawakan grup lawan, suatu grup harus bisa menebak lagu tersebut.
Ketika suatu kelompok berhasil menebak lagu tersebut, kelompok lainnya berhak mengambil alih tebak lagu dengan cara "Ngosek" atau memukul angklung serentak dan tidak beraturan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/banyuwangi_20170225_175109.jpg)