Kadek Chintya Bangga Tampilkan Tari Pendet di Sydney
Dalam kesempatan itu, tiga siswa peserta pertukaran pelajar dan guru peserta pertukaran guru ke Australia April 2016 lalu, bercerita tentang keasyikan
Penulis: Kander Turnip | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, MATARAM - Rombongan International Media Visit (IMV) Australia 2017 memulai kegiatan dengan mengunjungi SMAN 5 Mataram, sebagai salah satu peserta sister school dalam program The BRIDGE (Building Relations through Intercultural Dialogue and Growing Engagement) di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (3/5/2017) pagi.
Dalam kesempatan itu, tiga siswa peserta pertukaran pelajar dan guru peserta pertukaran guru ke Australia April 2016 lalu, bercerita tentang keasyikan ikut program pertukaran dengan SMA Mullubimby di Sydney, Australia.
Ni Kadek Chintya Dwi Andayani, siswi kelas XI IPA mengaku senang ikut program ini karena jadi punya banyak teman. Kalau di sekolahnya awalnya dia malu dan canggung, tapi setelah program ini dia lebih supel dalam bergaul.
"Saya bisa menari, jadi bangga bisa menari di luar negeri. Saya bawakan tari pendet, gandrung, dan tari sasak. Di sana juga kita dilatih untuk lebih percaya diri," ujar gadis berparas manis dan berkacamata ini.
Ayu Wulan Swecaning Waty, kelas XI IPA mengaku, setelah ikut program tersebut wawasannya kian bertambah.
"Kelebihannya mereka lebih disiplin ya. Juga saya terbantu dalam praktik bahasa Inggris. Dulu masih takut salah. Setelah di sana lebih lancar," ujar Wulan.
Tania Nisky, kelas XI IPS mengaku banyak belajar dari host. Menurutnya, cara belajar di SMA Mullumbimby asyik dengan memanfaatkan teknologi dan siswanya sangat disiplin.
"Kita jadi ikut-ikutan disiplin. Di sana nggak boleh telat karena kita jadi merasa canggung. Selain itu, sekarang saya jadi lebih percaya berbicara dalam bahasa Inggris," ujar wanita berjilbab tersebut.
Istiqomah, guru Matematika SMAN 5 Mataram yang ikut pertukaran guru pada April 2016 mengaku,
dengan teacher exchange secara umum wawasannya bertambah di bidang kurikulum, teknik dan metode mengajar.
"Sekolah di sana mengakomodir kegiatan siswa. Pelajaran yang bisa diadopsi dari sana untuk diterapkan di kelas adalah metode belajarnya yang mengharuskan siswa lebih aktif. Guru hanya fasilitator. Sisi kedisiplinan guru, itu yang bisa kita contoh. Soal waktu, guru sangat disiplin dan kalau telat guru bisa berlari-lari ke dalam ruang kelas," ujar Bu Isti, panggilan akrabnya.
Isti mengatakan, orang Australia di sana banyak bertanya tentang budaya, pariwisata, dan juga masakan khas Indonesia.
Endang Supriatna, guru bahasa Inggris, mengatakan, sejak program The BRIDGE dibuka pada tahun 2009, SMAN 5 Mataram sudah empat kali visit ke Australia. Sekitar 30 siswa dalam 4 kali kunjungan.
Selain kunjungan siswa dan guru SMAN 5 Mataram ke Australia, Dubes Australia untuk Indonesia juga pernah datang ke Mataram untuk melihat progres The BRIDGE dan proyek lain.
Selain itu, ada juga pertukaran siswa SMA di Australia yang belajar di SMAN 5 Mataram.
"Walaupun kondisi hubungan diplomasi Indonesia-Australia pasang surut, tapi hubungan kita di bawah tetap baik-baik saja. Kita malah berfungsi mendekatkan," ujar Koordinator Program The BRIDGE SMAN 5 Mataram ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/visit_20170503_104806.jpg)